Gaya Belajar Day #10

bunda sayang ibu profesional, Family, Gaya Belajar Anak, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kecerdasan, Melatih Kemandirian

Hari ini merupakan jadwal imunisasi booster pentabio bagi Fathal. Qodarullah saya baru beberapa menit tiba di rumah dari tugas luar kota sehingga dapat mengantarkannya ke Puskesmas. Ada beberapa kejutan menyenangkan yang diberikan Fatha sepanjang pagi tadi.

  1. Fatha sudah berinisiatif mengenakan sepatunya sendiri tanpa meminta bantuan. Hasilnya cukup rapi karena ia tidak protes atau mengeluh kurang nyaman.
  2. Fatha sudah berani menunggu antrian dipanggil di tempat duduk khusus anak-anak, sedangkan saya duduk agak jauh. Ia bahkan mau melahap sendiri makanan selingan berupa roti isi sosis.
  3. Fatha sudah berani menyapa anak-anak balita di Puskesmas dan mengajaknya berbicara meskipun kata-kata Fatha masih sulit dipahami. Diawali dengan pelan-melan mencolek lawan bicaranya, diikuti dengan senyuman, dan dilanjitkan dengan ocehan.
  4. Fatha sudah berani disuntik pada bagian lengan dan hanya berteriak tak nyaman saat jarum suntik menembus kulitnya. Setelahnya, ia sudah bisa tersenyum kembali.

Alhamdulillah hari ini banyak kemandirian dan kecerdasan baru yang dikembangkan oleh Fatha. Secara umum, ia berhasil menerapkan hal-hal yang sehari-hari ia amati secara visual melalui contoh dari orang tua (cara mengenakan sepatu) maupun secara auditori (kata-kata yang ia gunakan untuk menyapa anak lain, meskipun belum jelas). Contoh-contoh itu kemudian ia praktekkan dengan menggunakan gaya belajar kinestetik.

#harike11 #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Advertisements

Gaya Belajar Anak Day #5

bunda sayang ibu profesional, Family, Gaya Belajar Anak, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari libur ini saya ingin mengajak Fatha mengembangkan motorik halusnya melalui kegiatan menggambar. Kami berdua pun menyiapkan alat-alat yang diperlukan, yaitu buku gambar dan krayon. Awalnya saya mengajaknya menggunakan meja sebagai alas gambar, namun Fatha lebih memilih lesehan tanpa tikar.

Baiklah. Kegiatan menggambar dimulai. Setelah berdoa bersama, kami pun menggelar buku gambar dan mulai membuka kotak krayon. Saya mencontohkan padanya bagaimana mengambil kraton dari kotaknya dan menggoreskan warna-warna pada permukaan buku gambar. Tiada berapa lama, Fatha sudah asyik dengan kotak krayonnya. Ia membongkar pasang isinya.

Lalu semua isi krayon ditumpahkannya ke lantai. Saya bertanya padanya, 

“Kakak masih ingin menggambar? Yuk kita warnai lagi kertasnya,” Fatha menggelengkan kepalanya dan justru asyik dengan batang-batang krayonnya. 

Saya mengikuti keinginan Fatha dan kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Saya menggambar di atas buku gambarnya, Fatha membantu saya mengambilkan warna kraton yang saya butuhkan. Memang belum tepat benar seperti instruksi saya. Misalnya saya meminta krayon berwarna biru, ia mengambilkan warna merah. Saya memaklumi karena Fatha belum terlalu mengenal warna. Saya pikir, aktivitas ini pun menjadi salah satu caranya belajar tentang warna. Pelan-pelan ya Nak..

Ketika akhirnya saya lihat Fatha sudah mulai bosan dengan kegiatan ini, saya mengajaknya merapikan peralatan gambarnya,

“Yuk Kak, kita bereskan krayon-krayonnya”, ajak saya. Fatha mengangguk dan menjawab,

“Yuk,” ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil sapu. Saya mengawasinya sambil menahan tawa. Dalam pikirannya, “membereskan” dan “merapikan” identik dengan kegiatan menyapu, mengelap, maupun mengepel.

Saya membiarkannya beberapa saat dengan sapu. Setelah mengucapkan terima kasih, saya kemudian memintanya meletakkan sapunya.

“Kak, karena krayonnya masih akan kita gunakan besok, mari kita masukkan ke dalam kotaknya,” Fatha pun menurut.

Kami pun mengakhiri aktivitas bersama pagi ini dengan beberes dan mengucapkan Alhamdulillah.

Hasil pengamatan saya mengenai cara Fatha belajar pagi ini, ia menggunakan gaya belajar yang dominan kinestetik diikuti visual yang ditandai dengan caranya menggunakan seluruh anggota tubuhnya.

#harike6 #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Meet The Doctor

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Bertepatan dengan libur akhir pekan, rencana bermain peran a.k.a. dokter-dokteran dijalankan. Ibu membuatkan stetoskop untuk Fatha dari bando, pita, tutup botol, dan karet gelang.

20181118_135733-01.jpeg

Siang hari setelah Fatha bangun dari tidur siang, kami mulai permainannya. Diawali oleh Ibu yang memerankan Bu Dokter dan Ayah sebagai pasiennya.

“Keluhannya apa, Pak?” tanya Ibu sambil memasang “stetoskop” di telinga.

“Batuk-batuk dan demam, Dok,” jawab Ayah singkat.

“Mari saya periksa,” Ibu menunjuk dada dan punggung Ayah.

Fatha sepertinya sudah sangat berminat menjadi dokter, ia meminta “stetoskop” yang sedang dipakai Ibu dan menggantikan Ibu memeriksa Ayah.

Ia menempelkan bagian diafragma stetoskop pada hidung, dahi, dada, dan perut ayah. Fatha tertawa kegirangan saat kami bertepuk tangan setiap kali “stetoskop” menyentuh anggota tubuh Ayah.

20181118_135932-01

Di akhir permainan, kami menyampaikan misi utama permainan ini bahwa tugas utama dokter sangatlah mulia. Mereka membantu mencari tahu penyebab penyakit dan berikhtiar mengobati pasiennya agar sehat kembali atas ijin Allah.

Alhamdulillah kami bertiga menikmati tantangan kali ini 🙂

#Hari15
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Family Project Status: Temporary Hiatus

bunda sayang ibu profesional, Family Project, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kecerdasan, Melatih Kemandirian

Malam kemarin sepulang kantor saya merasa energi terkuras habis. Alhamdulillah tidak sampai harus membawa pekerjaan kantor ke rumah. Meskipun demikian, saya tidak dapat menjalankan proyek bersama Si Kecil Fatha.

Akhirnya saya putuskan untuk hanya menemani Fatha bermain, membiarkannya mengambil alih kendali tanpa menuntunnya harus melakukan apa-apa. Jadi situasinya mengalir sesuai keinginan Fatha.

Dan inilah yang terjadi.

PicsArt_11-14-03.57.23-01

Fatha sudah asyik bermain-main dengan tempat sampahnya. Yang membuat saya takjub, ia sudah cukup mengerti bagaimana strategi memanjat, yaitu dengan membalik tempat sampah dan menaikinya secara hati-hati dengan berpegangan pada pintu kulkas. Masya Allah. Ia penasaran dengan pintu kulkas bagian atas a.k.a freezer yang dia rasa sejuknya maksimal. Tiap saya membuka pintunya dan Fatha sedang berada persis di bawah, ia akan berkomentar,

“Dingin,” sambil merentangkan tangan ke atas, minta digendong dan menyentuh ice gel, es batu, botol ASIP, atau bahan makanan lain.

Kali ini sepertinya ia ingin mencoba membuka sendiri pintu freezer. Saya menanyakan apa maksudnya memanjat tempat sampah dan Fatha menjawab dengan senyuman dan cengiran. Saya menjelaskan bahwa aktivitasnya ini cukup berbahaya karena plastik tempat sampah cukup licin dan tidak cukup kokoh untuk dinaiki. Saya mengalihkannya dengan mengajaknya ke ruang tamu.

Selanjutnya Fatha mulai mengeluarkan building blocks kesayangannya. Sepertinya saat ini mainan tersebut sedang menjadi mainan favoritnya.

20181112_201029-01

Fatha asyik memadukan beberapa potong mainan selama beberapa saat hingga akhirnya meminta saya untuk duduk di belakangnya. Ia tampak seru menggabungkan 2-3 potong building blocks, membongkarnya, memasangnya kembali, mengeluarkan seluruh kepingan dari wadahnya ke lantai, hingga akhirnya mengembalikannya ke dalam kotaknya lagi.

20181112_201433-01

Yang membuat saya bahagia, semua ini ia lakukan tanpa instruksi, alhamdulillah 🙂

Saya mengucapkan terima kasih pada Fatha karena pencapaian yang ia lakukan hari itu. Plus kecupan sayang di dahi dan pelukan untuknya.

Terima kasih Nak 🙂

#Hari11
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Rumah Rapi Day #5

bunda sayang ibu profesional, Family Project, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kecerdasan, Melatih Kemandirian

Anak perlu diajari melalui keteladanan, bukan hanya dengan ucapan.

Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa Fatha makin senang menirukan apa yang saya ucapkan atau lakukan. Termasuk “kenakalan” yang tanpa sadar saya lakukan seperti menxolek dan menjilat sisa lelehan madu di mulut botolnya. Ups..

Tapi salah satu keteladanan yang berhasil dicontoh uti adalah kesukaannya menyapu dan mengepel lantai. Meskipun tentu saja hasilnya masih jauh dari kata bersih, minatnya untuk mampu melakukan sendiri aktivitas yang biasa dikerjakan orang dewasa perlu kami berikan apresiasi.

Fatha sudah menunjukkan inisiatif yang baik saat kemarin pagi Uti menggunakan sapu panjang untuk membersihkan sarang laba-laba di langit-langit. Setelah mengamati dengan seksama, ia mengambil sapu ijuk dan menirukan gerakan Uti.

Uti melihat kelakuan Fatha dan tertawa geli. Saya yang mengamati mereka berdua kemudian menyampaikan pada Fatha perbedaan fungsi masing-masing sapu tadi.

“Sapu yang gagangnya panjang ini digunakan untuk menjangkau kotoran jauh di atas sana, Nak. Sedangkan yang gagangnya pendek ini untuk menyapu lantai.”

Selanjutnya, Fatha melanjutkan menyapu sesuai arahan yang sudah diberikan. Hehehe..

 

20181109_070627-01

#Hari7
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Rumah Rapi Day #2

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kecerdasan, Melatih Kemandirian, Uncategorized

Hari Selasa, saya kembali harus pulang terlambat dari kantor. Tiba di rumah saat matahari sudah tampak kadang membuat saya merasa bersalah karena artinya hak Si Kecil saya dzalimi. Tapi saya juga percaya bahwa rasa bersalah tidak akan mengubah keadaan. Jadi lebih baik memanfaatkam waktu yang terbatas bersamanya dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan cara memfokuskan diri pada Fatha saat kami sedang menghabiskan quality time berdua.

Saya dan suami sepakat untuk tidak menampakkan diri asyik dengan ponsel, kecuali saat mengambil gambar atau melakukan video call. Inilah yang menjadi salah satu kendala saat melakukan dokumentasi kegiatan karena saat momennya tepat untuk berfoto, ponsel berada jauh dari jangkauan 🙂

Jadilah foto biasanya kami jepret seadanya. Hehehe..

Sesampainya saya di rumah kemarin malam, Fatha sudah menyambut dengan bahagia. Seusai mandi kilat dan sholat, saya mengajaknya kembali mengerjakan proyek kami, Rumah Rapi. Kali itu Fatha sudah menentukan sebuah keranjang berwarna biru sebagai tempat meletakkan pakaian yang sudah rapi dilipat. Ia kemudian bertugas memilihkan saya baju mana yang akan begiliran saya lipat.

Sepotong, dua potong, acara berjalan lancar. Pada potongan ketiga, Fatha sudah beranjak dari pangkuan dan berjalan ke rak bukunya. Ia mengambil buku gambar dan bolpoin, kemudian mulai asyik mencorat-coret di pangkuan saya.

20181106_193536-01

Saya membiarkannya dengan kegiatannya itu sambil berusaha menyelesaikan tugas melipat pakaian. beberapa menit berselang, Fatha selesai dengan coretannya dan kembali berkutat dengan tumpukan pakaian yang ada di hadapan kami.

“Kak, minta tolong buku gambar dan bolpoinnya dikembalikan dulu ke rak buku ya,” pinta saya. Fatha bergegas mengembalikan dan kembali memanjat-manjat tumpukan pakaian. Sepertinya ia sudah ingin beralih kegiatan.

Saya mencoba bernegosiasi dengannya,

“Kita selesaikan tiga potong pakaian lagi, lalu Kak Fatha boleh kembali bermain ya..”

20181106_194303-01

Dan mainan inilah yang ia pilih seusai proyek selesai dikerjakan 🙂

Saya bahagia karena Fatha bisa belajar mengendalikan diri untuk tidak segera memenuhi keinginannya mengeksplorasi tumpukan pakaian dan keranjang pakaian. Ia bersedia untuk menuruti kesepakatan yang sudah kami buat meski rentang konsentrasinya masih sangat singkat.

Terima kasih banyak Nak. Apresiasi Ibu untukmu diwakili melalui pelukan ya 🙂

#Hari4
#Tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam

Menumbuhkan Kemandirian Si Kecil

Aliran Rasa, bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Mengapa perlu melatih kemandirian?

Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menjaganya, dan mendampinginya. Pada suatu titik, orang tua harus melepas anak menghadapi dunianya sendiri. Semakin dini anak diperkenalkan pada kemandirian, maka anak akan lebih cepat mandiri.

Fitrah anak adalah ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Ia akan dengan mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kita sebagai orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini, dengan memanipulasi keadaan sehingga anak dipaksa untuk mandiri. Tidak ada salahnya memberikan tantangan pada anak-anak dan meminimalisir bantuan. Seperti halnya orang dewasa, tantangan ini dibuat sekiranya pada batas maksimal kemampuan anak. Di batas maksimal yang dapat dicapai ini, anak akan berusaha dengan sekuat tenaga, sehingga kemampuannya berkembang dengan baik.

What doesn’t kill you makes you stronger

Apakah tolak ukur kemampuan ini? Menurut Pak Dodik yang kata-katanya sudah pernah saya tulis pada postingan ini, takarannya adalah tega. Orang tua haruslah tega untuk menahan diri tidak segera memberikan bantuan. Orang tua mesti tega melihat anaknya bersusah payah terlebih dahulu untuk dapat meraih keinginan.

Bagaimana caranya?

Tentunya semua dilakukan secara bertahap, dimulai dari level tantangan paling mudah yang sekiranya anak bisa melakukan. Sedikit demi sedikit tingkat kesulitan bisa ditambah. Orang tua bisa merasakan seberapa ambang batas toleransi anak.

Berdasarkan pengalaman dengan Fatha, langkah yang saya lakukan adalah:

Membuat target latihan untuk Si Kecil

Saat mendapatkan materi melatih kemandirian untuk anak, saya menyambut antusias tantangan yang diberikan. Saat itu saya optimis Fatha akan menikmati setiap game tantangan yang kami siapkan.

Jadi di hari pertama setelah kuliah Bunsay mengenai kemandirian, saya sudah membuat daftar jenis-jenis latihan apa saja yang sekiranya cocok diterapkan untuk Fatha. Dari sekian banyak aktivitas yang berhasil kami identifikasi, secara umum ada 2 kegiatan besar yang kami pilih yaitu:

  1. Berpakaian, meliputi aktivitas memilih pakaian yang akan digunakan, melepas, serta mengenakan baju
  2. Aktivitas merapikan, termasuk merapikan mainan dan meletakkan kembali barang pada tempatnya

Kedua aktivitas besar itu kemudian saya susun dalam wujud habit tracker dan dijadikan checklist untuk pencapaian Fatha. Setiap selesai melaksanakan tantangan, saya memberikan tanda di kolom hari pada baris jenis tantangan yang sudah dikerjakan. Tanda lingkaran jika hasilnya masih belum sesuai harapan, atau tanda bintang jika dirasa Fatha sudah mampu bekerja sama dengan baik.

PicsArt_10-23-03.07.49

Untuk jangka panjang, saya bercita-cita habit tracker ini ditulis dalam lembaran kertas yang lebih besar sehingga dapat ditempel di dinding. Setiap satu tugas ditunaikan dengan baik, Fatha mendapatkan sebuah stiker bintang untuk ditempelkan. Tentunya hal ini akan lebih menarik buat Fatha.

Sounding kepada Si Kecil, termasuk menyampaikan maksud dan tujuan

Segala sesuatu yang melibatkan Fatha, sebisa mungkin kami sampaikan padanya. Apa saja harapan kami terhadapnya juga kami komunikasikan. Misalnya ketika kemarin saya dan Ayah Fatha sepakat untuk mengajarkan Fatha mandiri dalam hal berpakaian. Saat informasi tersebut belum disampaikan, Fatha masih menganggapnya sambil lalu. Ternyata begitu hari berikutnya kami coba ajak bicara, Fatha menyambut baik aktivitas lepas-lepas baju 🙂

Konsisten menjalankan latihan

Lagi-lagi sedikit oleh-oleh dari Workshop “A” Home Team kemarin. Keluarga Padepokan Margosari memberikan pernyataan yang membuat saya dan suami merenung,

Pembiasaan adalah untuk binatang. Melatih binatang untuk bisa melakukan sesuatu adalah dengan dibiasakan. Manusia dapat dibedakan dari binatang karena kemampuannya berpikir.

Oleh sebab itu, mendidik anak memerlukan aktivitas berpikir. Artinya kita sebagai orang tua tidak hanya memberikan instruksi dan berharap anak serta-merta menuruti. Melibatkan anak untuk memperhatikan sebab dan akibat atau konsekuensi atas tindakan yang tidak atau yang justru dilakukan bisa menjadi salah satu solusi.

Contoh kasusnya begini. Saat itu Fatha masih asyik bermain dengan kabel dan pengisi daya ponsel saya walau sudah saatnya ia mandi pagi. Padahal saya juga sudah harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Saya menyampaikan pada Fatha,

“Nak, sudah saatnya mandi. Semakin lama Fatha main, waktu  cibung-cibungnya berkurang lho. Mari mandi sekarang”.

Harapan saya, Fatha sudah terbiasa memahami sebab-akibat segala sesuatu sehingga ia dapat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih. Bukan hanya sekedar terbiasa melakukan sesuatu.

Mengucapkan terima kasih

Salah satu bentuk reward yang sepakat untuk kami berikan pada Fatha setiap kali ia berhasil adalah ucapan terima kasih yang tulus. Kadang bentuk penghargaan yang spontan berupa tepuk tangan juga kami lakukan. Bentuk apresiasi yang sederhana ini diharapkan lebih mengena buat Fatha. Ada saatnya Fatha lebih dulu bertepuk tangan untuk dirinya sendiri jika ia berhasil melakukan pencapaian.

Semoga Fatha selalu jadi anak yang bahagia ya Nak 🙂

#AliranRasa

#GameLevel2

#Level2
#KuliahBundaSayang

#Bunsay4
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

 

Sumber Bacaan

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Materi #2 Program Bunda Sayang Batch #4. 2018

Melatih Kemandirian Day #16

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ini merupakan hari terakhir kesempatan mengumpulkan tantangan 10 hari melatih kemandirian. Kegiatan mandi Fatha sedikit tertunda karena keasyikannya bermain-main.

Jadi Fatha sedang senang-senangnya dengan segala macam kabel dan colokan. Setiap saya lengah, tiba-tiba ia sudah asyik bermain dengan kabel charger dan kepalanya, atau headphone dengan kabel yang sudah terurai.

PicsArt_10-22-10.09.43

Pernah sekali saya kecolongan, headphone kesayangan saya sudah “dicolokkan” di teralis jendela entah sejak kapan. Ketika saya coba gunakan, tiada suara terdengar. Hiks..

Karena waktu mandi sempat tertunda oleh acara bermain, saya cukup terburu-buru mengajaknya mandi. Alhamdulillah Fatha cukup mengerti keterbatasan waktu saya, dan ia menurut saat saya minta segera melepas pakaian.

Acara mandi pagi berlangsung cepat dan tepat karena minus berendam a.k.a. cibung-cibung. Setelahnya, dengan badan dibalut handuk, ia menggelendot manja sambil berujar, “nin”..

Kesempatan bagi saya untuk membujuknya, “Segera pakai baju yuk Nak, supaya badannya tidak dingin lagi..”

Dan Fatha menurut.

Terima kasih Nak 🙂

#Harike16
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #15

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Fatha. Setelah ia mau melepas sendiri celananya saat akan mandi (tentunya dengan diiringi berlari-larian dan memanjat-manjat), acara cibung-cibung berlangsung damai. Ia bersedia mandi dengan tenang sambil berendam di dalam ember kesayangannya sementara saya sempat mencuci beberapa potong pakaian.

Setelah beranjak dari kamar mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Fatha bersedia ganti baju sendiri dengan bantuan Sang Ibu. Saya cukup takjub dengan kerja samanya.

Ternyata cerita belum berhenti di situ. Saat saya lengah membalikkan badan untuk mengambil body lotion, tadaaaaa

PicsArt_10-22-10.15.33

Pakaian bersih yang sudah dilipat dan siap masuk lemari sedang dalam kondisi aporak poranda. Fatha sudah menemukan permainan baru: memanjat tumpukan baju dalam keranjang pakaian ^^;

Perasaan saya campur aduk antara geli Fatha kreatif menemukan permainan baru dan sedih karena hasil kerja tadi sepagian roboh karena aksi Fatha.

Mari syukuri saja. Toh kamar berantakan bak kapal pecah masih bisa dirapikan saat Fatha tidur 🙂

#Harike15
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #14

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Perjalanan melatih kemandirian bagi Fatha memang seru-seru menggemaskan. Ada saja ulahnya untuk menghindar dari latihan ini. Seperti beralasan meminta “nenen” di tengah acara ganti baju pasca mandi. Atau melarikan diri dari kamar tidur ketika saya sedang merayunya untuk memakai celana sendiri.

Oya, salah satu alasan mengapa melepas baju dan mengenakan celana sendiri menjadi target latihan kemandirian Fatha adalah karena kami menargetkan untuk mulai membiasakannya toilet training pada usia 18 bulan. Dalam waktu 2 bulan ini kami berharap Fatha sudah mampu melepas dan memakai celana sendiri sehingga latihan toilet training dapat berjalan lancar, Insya Allah.

Mengenai latihan kemandirian ini, ada oleh-oleh menarik dari acara Workshop “A” Home Team di Salatiga kemarin.

Pak Dodik Mariyanto menjelaskan bahwa membentuk keluarga itu haruslah berlandaskan pada kasih sayang. Untuk mendidik anak, takarannya adalah tega.

Tega yang membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh, menempa kemandiriannya, dan tentu saja tetap berlandaskan kasih sayang tadi.

Penjelasan Pak Dodik itu membuat saya dan suami berpandangan. Semakin memantapkan hati bahwa melatih Fatha mandiri memang butuh proses terus menerus dengan konsisten dan memerlukan kesabaran orang tuanya. Tidak masalah progressnya naik turun, yang penting kami membiarkan fitrahnya melakukan aktivitas secara mandiri dapat berkembang.

#Harike14
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Referensi

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.