Stimulasi Anak Suka Membaca Day #4

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, For Things to Change I Must Change First, Ibu Profesional, IIP

Salah satu buku seri kesukaan Fatha adalah Halo Balita, terutama yang bertema melatih kemandirian. Ia sangat menghayati cerita di dalamnya karena merasa sudah sering mempraktekkan dalam aktivitas sehari-hari.


Buku “Aku Bisa Makan Sendiri” menjadi salah satu favorit Fatha. Ia menunjukkan pada saya bagian Tokoh Utama Sali sedang makan bersama Kumi kucingnya. Fatha bahkan turut mempraktekkan doa sebelum makan (“bismillah”) dan selesai makan (“alhamdulillah”).

Saya hari ini sedang mencoba memulai buku baru berjudul “Saya Pengen Jago Presentasi” karya Budiman Hakim. Beberapa halaman pertama buku ini sudah sangat menggoda saya untuk segera menamatkan bukunya. Sayang sekali tugas lain menunggu sehingga baru selesai hingga separuh jalan.

Ayah Fatha tak disangka-sangka di tengah kesibukannya masih konsisten melahap dua bab Buku “Ayah Edy Punya Cerita”.

Bab keenam menekankan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membentuk Pola asuh anak. Namun saat ini jaman sudah berbeda. Lingkungan bisa menjadi ancaman berbahaya yang dapat menggantikan posisi orang tua dalam membentuk pola perilaku anak kita. Bahaya lingkungan buruk bisa merusak perilaku anak. Dan jika orang tua tidak bisa menggantisipasi ini sejak dini maka lingkunganlah yang akan merusak perilaku anak.

Menentukan pola asuh untuk anak pun harus disesuaikan dengan tipologi dan karakter anak serta kita sendiri sebagau orang tua, seperti dicontohkan dalam kisah di bab enam.

Ringkasnya, hari keempat ini, beginilah kenampakan Pohon Literasi kami. Makin rimbun, alhamdulillah 🙂

#HariKe5 #GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Advertisements

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #3

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, For Things to Change I Must Change First, Ibu Profesional, IIP

Perjalanan membaca keluarga kami telah sampai di hari ketiga. Menyenangkan mengetahui Ayah, yang biasanya mengandalkan Ibu untuk meringkaskan sebuah buku, bisa menghabiskan satu-dua bab dalam sehari. Terlepas dari berapa pun jumlah halamannya.

Saya pun ikut termotivasi untuk ikut membaca di luar “tema serius” yang sehari-hari harus diselesaikan. Meski hanya satu-dua artikel singkat namun cukup menghibur dan memunculkan ide baru buat mendongengkan Fatha.

Hari ketiga ini ada lima helai daun yang berhasil tumbuh pada Pohon Literasi kami.

Fatha sukses menyelesaikan “Halo Balita: Aku Bisa Mandi Sendiri” yang ia pilih. Buku ini memang di luar reading tracker yang pernah kami susun sebelumnya. Fatha sudah sangat familiar dengan beberapa judul “Halo Balita”, termasuk tema mandi ini.

Fatha menunjuk “ciduk” alias gayung yang digunakan Sali, sang tokoh utama, mengambil air untuk mandi. Ia pun memeragakan bagaimana biasanya ia mandi. Termasuk adegan menggigil kedinginan ketika keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.

Bagian saya membaca bertambah dua artikel lagi mengenai perjalanan Desi Anwar ke Turki dan Laut Bali. Ayah pun berhasil menamatkan dua bab lagi.

Bab keempat dalam buku “Ayah Edy Punya Cerita” sudah diselesaikan oleh Ayah. Intisarinya, proses mendidik anak perlu disesuaikan dengan zamannya. Kita sebagai orang tua tak perlu memberikan intervensi berlebihan karena justru akan melukai anak dan berakibat fatal pada perkembangannya.

Bab kelima cukup mengena di hati Ayah karena menceritakan bagaimana kalimat positif memiliki efek yang dahsyat bagi masa depan anak. Dengan pengalaman yang kurang ideal di masa lalu, Ayah dan Ibu jadi bertekad untuk dapat menyuntikkan kalimat-kalimat positif untuk Fatha setiap hari.

Kami berharap pengalaman membaca hari-hari selanjutnya bisa semenyenangkan ini meskipun bukan lagi dalam rangka menjalankan tantangan 🙂

#HariKe4

#GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #2

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, For Things to Change I Must Change First, Ibu Profesional, IIP

Menyisihkan sebagian waktu bermain dan menjadikannya acara membaca bersama Fatha bisa jadi sangat menyenangkan. Fatha mulai gemar meniru aktivitas membaca. Bukan hanya buku ceritanya sendiri, ia mulai suka melirik buku yang sedang saya baca.

Fatha membolak-balik halaman buku

Ia juga menunjuk gambar-gambar yang menarik pada sampul buku tersebut. Dengan mudahnya Fatha menemukan gambar becak dan mengingat jelas namanya.

Di kesempatan berbeda, Fatha memilih buku “Hmmm…” dan belajar mengenai emosi. Marah, sedih, takut, jijik, dan senang ditunjukkan melalui beberapa ekspresi dan perumpamaan pada buku tersebut. Fatha juga senang menyentuh bagian-bagian bertekstur pada buku tersebut.

Fatha mengenal emosi dan berbagai macam tekstur pada sensory play Buku “Hmmm…”

Sesi membaca hari kedua, saya menghabiskan dua artikel Buku “Faces & Places” lanjutan hari kemarin. “Bertemu Sinterklas” adalah judul artikel yang pertama, menceritakan kisah Desi Anwar saat berhasil menemui “Sinterklas” di kantor pusatnya di Finlandia. Ia menceritakan dengan bahasa yang lugas namun menarik dan plot twist yang menghibur.

Cerita kedua mengenai kunjungan Desi Anwar ke Tibet untuk menemui Dalai Lama di suatu pergantian tahun. Beliau selalu mampu menceritakan sisi positif seorang tokoh dengan sangat baik. Dalai Lama yang rendah hati dan sederhana tergambarkan dalam artikel ini.

Bagaimana dengan Ayah?

Alhamdulillah, Ayah ngebut dan berhasil menyelesaikan tiga bab pertama Buku “Ayah Edy Punya Cerita”.

Bab pertama Ayah tamatkan saat di dalam perjalanan. Intisari yang didapat oleh Ayah setelah membaca bagian ini adalah jika kita ingin mengubah perilaku negatif anak maka mulailah dengan memperbaiki perilaku kita sebagai orang tuanya.

Bab kedua menekankan bahwa setiap anak membutuhkan waktu untuk dapat bermetamorfosis menjadi manusia yang luar biasa di masa depan. Ayah Edy menggambarkannya dengan kisah ulat bulu yang akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Bab ketiga menjelaskan bahwa anak kita merupakan makhluk paling canggih yang pernah diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Tidak ada ciptaan Allah yang menjadi produk gagal. Menjadi orang tualah yang harus dipersiapkan dengan baik.

Alhamdulillah perjalanan membaca hari kedua selesai dengan baik. Masing-masing anggota keluarga mampu menikmati tiap prosesnya. Rangkuman kegiatan dalam bentuk Pohon Literasi bisa dilihat di bawah ini.

Pohon Literasi Hari Kedua. Sebagian permukaan kertas gambar sudah menjadi korban coretan Fatha. Termasuk beberapa helai daun yang harus diganti karena dicopot paksa 🙂

Bonus enam helai daun untuk kami hari ini 🙂

#HariKe3 #GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Stimulasi Anak Suka Membaca Day #1

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, For Things to Change I Must Change First, Ibu Profesional, IIP

Hari libur seperti biasa menjadi salah satu hari favorit kami sekeluarga. Saat itu saya dan suami bisa lepas dari rutinitas harian. Demi memenuhi tantangan kali ini sekaligus menumbuhkan kecintaan kami pada membaca, malam hari kami pilih sebagai waktu membaca bersama.

Ah iya, sayang sekali minggu ini Ayah Fatha harus kembali ke rantau lebih awal karena akan bertugas ke luar kota selama sepekan. Beliau harus mempersiapkan segala sesuatunya sehingga terpaksa skip acara membaca bersama di hari pertama.

Hari pertama membaca bersama, saya memilih buku karya Desi Anwar, salah seorang jurnalis ternama dari Indonesia. Bukunya yang berjudul “Faces & Places” ini merupakan kumpulan sembilan puluh artikel lepasnya mengenai tempat dan orang yang pernah ia jumpai selama perjalanan hidupnya.

Buku pertama yang saya pilih

Membaca buku ini membuat saya takjub dan tertular semangat menjelajahi belahan dunia lain dan mencari serpihan ilmu dan hikmah dari tokoh maupun kejadian yang kita temui.

Saya berhasil menamatkan dua bab berjudul “Menonton paus di Sydney” dan “Merauke — Pertemuan di Perbatasan”. Kisah yang pertama menceritakan pengalaman Desi Anwar menyaksikan pertunjukan kawanan paus di lautan terbuka. Di saat semua orang siap dengan kamera masing-masing, para paus tidak menampakkan diri. Mereka justru muncul ketika para penonton justru sednag tidak siap dengan alat rekam masing-masing. Kisah ini mengajarkan pada saya bahwa hal-hal terbaik dalam hidup kadang memang cukup untuk dinikmati, bukan untuk dipamerkan.

Cerita kedua adalah tentang Pak Ma’ruf, polisi di daerah perbatasan Merauke yang menikmati tugasnya dengan bercocok tanam dan membiarkan pengunjung menikmati hasilnya. Ia mengandalkan gado-gado jualan sang istri untuk merawal dan memelihara taman dan kebun yang ia kelola. Saya terkesan dengan dedikasi Pak Ma’ruf memanfaatkan lahan yang ada menjadi tempat yang indah dan berbuah.

Bab kedua yang sudah berhasil saya selesaikan

Membaca bersama Fatha ternyata tak kalah serunya. Selama ini kami membaca satu buku yang sama, Fatha mengamati gambar dan saya bercerita. Kali ini saya mencoba membuka buku pilihan saya dan Fatha saya minta memilih sendiri buku bacaannya. Ia mengambil buku berjudul “Suara Apa Itu?” yang sudah ia tempatkan pada rak bukunya.

Fatha asyik bercerita tentang Ayah yang mengendarai sepeda bersama Ibu dan anak-anaknya.

Fatha juga sudah mampu menebak nama-nama alat transportasi yang ada pada halaman terakhir buku tersebut.

Rangkuman bacaan hari kemarin kami kemas dalam Pohon Literasi di bawah ini. Ayah belum berhasil menamatkan bab pada buku yang ia baca. Semoga esok kami bertiga sama-sama bisa menambah satu helai daun pada ranting pohon kami.

#HariKe2 #GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Stimulasi Anak Suka Membaca

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, For Things to Change I Must Change First, Ibu Profesional, IIP

Tantangan level lima Bunsay dimulai.

Kali ini permainan yang akan kami lakukan sangat menarik. Setiap anggota keluarga mendapatkan tantangan yang sama, yaitu membaca. Menarik, karena sebelum mulai, kami diminta untuk menuliskan reading tracker alias daftar buku yang akan dibaca. Jadi semacam menentukan rencana dan target bacaan yang akan dituntaskan selama 10 hari nanti.

Mumpung Ayah Fatha sedang ada di rumah, selepas kelas Bunsay berakhir, kami diskusikan judul-judul buku yang akan kami pilih. Supaya membaca terasa menyenangkan, ada dua kriteria yang kami telah tetapkan di awal, yaitu:

  1. Topik bacaan adalah hal yang kami sukai. Jadi semangat membaca bisa muncul.
  2. Dimulai dari buku yang tipis. Atau setidaknya buku yang jumlah halaman dalam satu babnya sedikit.

Kriteria di atas sebenarnya diperuntukkan bagi Ibu dan Ayah saja. Tentu saja karena Fatha masih belum bisa membaca sendiri. Jadi kami memberikannya pilihan beberapa buah buku, lalu Fatha memilih beberapa di antara banyak pilihan. Kita lihat saja bagaimana nanti Fatha akan menjalankan tantangan membaca ini.

Berikut ini daftar buku yang akan kami baca selama 10 hari.

Sebelum benar-benar memulai perjalanan tantangan level 5, ada alasan yang harus saya sampaikan pada Ayah dan Fatha agar kami semua sepemikiran.

Mengapa perlu melakukan stimulasi membaca?

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar anak menguasai keterampilan berbahasa dan mengembangkan kecerdasan literasinya.

  1. Keterampilan mendengarkan. Anak sudah diperkenalkan dengan suara sejak masih dalam kandungan. Kata-kata dan suara yang sering ia dengar merupakan dasar kemampuan berbahasa yang pertama.
  2. Kemampuan berbicara. Sebaiknya anak diperkenalkan dengan suara dan percakapan langsung dari mata ke mata, bukan melalui gawai. Mengapa? Sebab kemampuan berekspresi dan emosi tidak dapat ditransfer melalui layar.
  3. Membaca. Aktivitas membaca merupakan bekal anak dapat menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Membaca juga merupakan sarana utama mendapatkan ilmu.
  4. Menulis. Kemampuan menulis tidak serta merta diperoleh begitu saja. Ada tiga tahapan panjang yang harus dilalui sebelumnya. Ketika anak sudah menyukai aktivitas mendengarkan, berbicara, dan membaca, maka ia sudah selangkah lebih dekat dengan kemampuan menulis.

Yang paling penting dari semua tahapan tersebut adalah anak menyukai dan menikmati prosesnya. Alasan inilah yang membuat saya dan Ayah Fatha berniat untuk menjalankan tantangan dengan sebaik-baiknya meskipun selama sepekan ini Ayah harus mengikuti rangkaian pertemuan kantor dengan jadwal padat merayap. Doakan saja kami dapat konsisten mengatur waktu dan menjalankan tantangan dengan bahagia.

Oh ya, setiap hari kami akan saling melaporkan seberapa pencapaian target yang sudah kami lakukan. Saya dan Fatha bertugas merekap kemajuan tersebut dalam Pohon Literasi yang sudah kami persiapkan batang dan dahannya. Tiap satu bab yang khatam, kami tulis dalam sepotong kertas dan kami tempelkan sebagai daun pada pohon tersebut.

InsyaAllah besok kami akan mulai melaporkan perkembangan tantangan yang sudah kami jalani. Semoga berhasil..

#HariKe1 #GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Bahan Bacaan

Materi Level 5 Program Bunda Sayang Batch #5 “menstimulasi Anak Suka Membaca”. Institut Ibu Profesional. 2018.

Tentang #projectofgratitude

Aliran Rasa, Curhat, Family, Melatih Kecerdasan

Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti

Anonim

Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya saya jalani dengan keterpaksaan. Saat masih menjadi siswa SD, ujian Bahasa Indonesia dengan topik mengarang indah selalu menjadi mimpi buruk. Saya merasa kosakata terbatas pada itu-itu saja. Beranjak dewasa, qodarullah profesi saya mengharuskan menulis sebagai kegiatan utamanya. Berat memang. Sampai sekarang saya masih merasa kemampuan menulis saya berada di bawah rata-rata.

Kesadaran untuk tetap menulis dengan segala keterbatasan tersebut kembali muncul setelah #elfathamirza lahir. Teringat saat masih kanak-kanak, ibu sering mendongeng untuk saya bukan dengan buku cerita, melainkan dengan kisah hidupnya. Saya selalu tertarik dengan dongeng ibu karena selalu berkisah tentang tempat, keadaan, dan tokoh-tokoh yang baru (meskipun kemudian saya menyadari, dongeng impromptu ini adalah strategi cerdik ibu mengatasi kekurangan buku bacaan anak-anaknya 🙈)

Saya kemudian berpikir, betapa seorang anak sangat mengagumi orang tuanya. Bahwa sepenggal kisah yang menurut kita biasa, bisa jadi segalanya di mata mereka.

Sejak saat itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Melalui #projectofgratitude yang sempat mati suri selama dua tahun, saya kembali menemukan semangat bercerita. Saat ini saya sudah mulai mencicipi manfaatnya, meskipun masih berupa remah-remah saja.

Menulis buat saya adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan saya fokus pada apa yang sedang saya lakukan.

Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu (belanja, ehm) online.

Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.

Mengapa online?

Beberapa kali saya kehilangan cerita, foto, dan dokumen lama di gawai. Menyimpan secara online merupakan ikhtiar untuk mengabadikan cerita yang semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Si Kecil.

Sejak proses kehilangan itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Tentang kisah keseharian dalam bentuk blog, artikel populer, maupun ilmiah. (Dua poin terakhir menjadi PR besar saya tahun 2019 ini, mohon doanya). Saya berharap tulisan saya bisa memberikan manfaat bukan hanya untuk saya, namun juga orang lain yang membacanya. Semoga ada sesuatu yang masih bisa dikenang dan bermanfaat untuk sekitar meskipun saya sudah tiada.

Bismillah..

Memahami Gaya Belajar Anak

Aliran Rasa, bunda sayang ibu profesional, Family, Gaya Belajar Anak, Ibu Profesional, IIP

Tugas demi tugas program Bunda Sayang (Bunsay) dari empat level sudah dilalui. Makin hari, kami makin menikmati tantangan ini. Saya sudah mulai menemukan pola yang nyaman untuk mengerjakan tugas: malam hari setelah Fatha terlelap.

Observasi pun bisa dilakukan dengan nyaman meski kadang sulit mengambil dokumentasi berupa foto. Baik saya maupun Fatha sama-sama menikmati setiap tantangan. Bagaimana tidak, tantangan yang diberikan mengharuskan kami untuk bermain bersama. Waktu yang berkualitas kami rasakan, walau durasinya tidak terlalu lama.

Seperti level-level sebelumnya, tantangan level keempat ini membuat saya makin menikmati momen kebersamaan dengan Fatha. Ide-ide permainan paling sering muncul darinya. Jadi seakan-akan semua kegiatan mengalir begitu saja tanpa direncana.

Namun di situlah asyiknya. Fatha merasa melakukan sesuatu tanpa paksaan dan sesuai inisiatifnya sedangkan saya bisa menghemat energi karena cukup mengikuti keinginannya.

Hasil pengamatan saya melalui kegiatan-kegiatan harian Fatha selama dua pekan berturut-turut menyimpulkan suatu hal. Bahwa saat ini Fatha masih bisa mengembangkan ketiga gaya belajarnya tergantung dari jenis kegiatan yang ia lakukan. Ada kalanya Fatha menunjukkan kecenderungan gaya belajar visual saat bermain dengan gambar dan warna, di lain waktu kinestetik yang lebih dominan saat harus mengerahkan kemampuan motorik kasarnya.

Semua tantangan yang sudah dilalui pada level ini membuat kami bisa lebih kreatif bermain dan belajar. Terima kasih untuk fasilitator Mbak Sindu dan teman-teman sekelas batch #4 atas sharing ilmu dan pengalamannya sehingga tantangan bulan ini berjalan lancar 🙂

#AliranRasa #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Gaya Belajar Day #14

bunda sayang ibu profesional, Family, Gaya Belajar Anak, Ibu Profesional, IIP

Hari ini saya harus kembali bertugas di luar kota dan haru berangkat subuh. Fatha baru saja terbangun ketika saya sudah bersiap berangkat. Belum banyak waktu berkualitas yang kami lakukan pagi tadi. Namun ada satu hal yang saya amati dari salah satu hal kesukaan Fatha. Ia sangat suka selimut. 

Sering Fatha ditemukan sedang memeluk erat selimut, menyeret-nyeret selimut keluar kamar, atau pasang kuda-kuda menyusu sambil menggenggam erat selimut kesayangannya.

Akhir-akhir ini bahkan saya lihat Fatha senang melapisi baby nest jaman bayinya dengan selimut. Ia akan betah sekali bermain-main di situ. Apalagi ketika menunggu Uti selesai sholat, ia ikut mengikuti gerakan Uti di atas selimut di dalam baby nest-nya.

Berdasarkan beberapa sumber bacaan di sini dan sini, sentuhan dan kenyamanan adalah hal yang penting bagi anak dengan tipe kinestetik.

Hal ini cukup menyenangkan bagi saya yang gaya belajar sekundernya adalah kinestetik dan bahasa cintanya adalah sentuhan. Sama-sama klik dengan Fatha. Mungkin karena usia Fatha yang masih sangat belia sehingga belum menunjukkan kecondongan gaya belajar pada salah satu gaya tertentu. Dengan kata lain, ia masih mahir menggunakan gaya belajar apapun.

#harike15 #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Gaya Belajar Anak Day #13

bunda sayang ibu profesional, Family, Gaya Belajar Anak, Ibu Profesional, IIP

Melanjutkan trip Semarang Sabtu kemarin, Fatha sangat bersemangat mengenal tempat-tempat baru. Bahkan sesederhana kamar hotel. Ia sudah mengeksplorasi setiap sudut kamar termasuk saklar lampu, keran air, jendela, tempat sampah, pintu kamar mandi, hingga telepon. Salah satu permainan yang akhirnya kami lakukan terinspirasi dari telepon yang berkali-kali diraih Fatha.

Jadi sebelumnya saya sudah memastikan kabel konektor dilepas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semisal salah sambung. Telepon pun kami pindahkan dari atas meja ke atas tempat tidur agar Fatha leluasa bermain peran.

Fatha memulai dengan mengangkat gagang telepon dan mulai memberikan salam,

“Haloooo.”

Saya mengambil remote AC (yang sebelumnya juga digunakan Fatha sebagai telepon karena dianggapnya mirip ponsel 🙂 ) dan menjawab salamnya,

“Halo assalamu’alaikum.”

“Calam,” jawab Fatha lagi. Oh iya, Fatha sudah mampu mengucapkan “Akum” alias “Assalamu’alaikum” jika masuk rumah dan menjawab “Calam” atau “Wa’alaikumsalam” jika ada yang memberinya salam terlebih dahulu.

Selanjutnya kami bercakap-cakap semampunya dan sepahamnya ^^

Lewat permainan dengan telepon ini, Fatha melatih gaya belajar kinestetiknya dari bermain peran dan auditori dan percakapan yang kami lakukan.

#harike14 #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4

Gaya Belajar Anak Day #12

bunda sayang ibu profesional, Family, Family Project, Gaya Belajar Anak, Melatih Kecerdasan

Hari Sabtu ini menjadi hari yang dinantikan oleh kami sekeluarga. Sejak sepekan yang lalu Ayah sudah menginformasikan bahwa beliau akan ada acara workshop di Semarang. Kami pun merencanakan akan menghabiskan akhir pekan di Semarang sekaligus menginap di sana.

Ibu sudah memesan penginapan via aplikasi online. Hazotel nama penginapannya. Merupakan salah satu hotel syariah yang lokasinya di Banyumanik, Semarang. Tidak terlalu jauh dari venue acara Ayah.

Pagi tadi selepas Subuh kami sudah mulai bersiap-siap. Ibu memastikan seluruh pakaian serta perlengkapan menginap sudah diangkut. Ayah memandikan Fatha, memastikannya sudah sarapan dan siap berangkat.

Kami pun berangkat menuju lokasi. Tiba di O-mama-mia, Ayah melakukan registrasi ulang dan memberikan kejutan untuk Fatha. Rupanya peserta workshop mendapatkan suvenir berupa coklat berbentuk huruf yang dapat dipesan sesuai permintaan. Ayah memilih nama “Fatha”. Ibu pun mupeng.

Fatha pun melepas Ayah untuk menuntut ilmu. Ia sempat melambaikan tangan pada Ayah sebelum beranjak menuju lokasi bermain.

Jadi permainan kami hari ini menjadi salah satu family project yang sudah saya dan Fatha susun sebelumnya. Proyek kali ini mengambil lokasi di Trans Studio Mini Setiabudi. Beberapa hari sebelum hari ini, saya sudah mengajak Fatha merencanakan kegiatan. Fatha akan berperan sebagai leader. Ia yang akan menentukan wahana permainan yang akan kami coba meskipun kenyataannya banyak permainan yang belum boleh diikuti oleh anak berusia 1,5 tahun 🙂

Pukul 10 tepat, kami sudah berada di lokasi. Sebelum menuju wahana permainan, Fatha sudah menunjuk troli pengangkut barang belanjaan. Ia menarik tangan saya dan meminta didudukkan di dalam troli. Sesuai kesepakatan, saya mengikuti keinginannya. Fatha menunjuk arah atau objek yang ia inginkan dan tugas saya mendorong troli ke arah tersebut.

Fatha menyapa hampir semua orang baik pengunjung maupun petugas di sana dengan senyum dan lambaian tangan. Alhamdulillah hari masih cukup pagi. Jadi belum terlalu banyak orang yang disapanya 🙂

Di tengah wara-wiri melihat sekeliling, Fatha mendadak minta “maem”. Saya menawarkannya makan nasi dan lauk namun ia menolak. Rupanya yang diinginkannya adalah es krim. Es krim santan rasa kacang hijau adalah pilihannya. Alhamdulillah bisa habis separuh cup (jangan bertanya siapa yang menghabiskan sisanya).

Setelah selesai dengan es krim dan tak lupa minum air putih (“ninik”), Fatha menarik tangan saya mencari mobil-mobilan yang ia inginkan. Pilihan jatuh pada mobil sedan berwarna biru. Selama hampir satu jam ia mengamati sekelilingnya: orang-orang berlalu-lalang hingga roller coaster yang melintas di atas kami.

Karena jam tidur Fatha sudah terlewat jauh, saya sempat membawanya menuju ruang laktasi untuk meninabobokkannya. Rupanya tak manjur. Fokus perhatiannya masih pada riuh ramai di kejauhan. Tak berapa lama ia kembali mengajak saya menuju mobil-mobilan sebelumnya.

Untunglah Om Adhit sudah selesai dengan pekerjaannya, dan menjemput kami. Fatha dan Om Adhit sempat mencoba 1 wahana permainan yang diinginkan Fatha: kereta api, kemudian kami pergi makan dan kembali ke hotel. Fatha bisa puas tidur setelahnya, alhamdulillah.

Hasil pengamatan gaya belajar Fatha berdasarkan proyek bermain di taman hiburan ini menunjukkan Fatha masih dominan visual (dilihat dari caranya mengamati sekeliling) dan auditori (kepekaannya terhadap suara orang maupun permainan di kejauhan). Saya belum dapat menilai kemampuan kinestetiknya karena belum ada cukup kesempatan untuk mengajaknya “terjun” ke playground tingkat tiga karena khawatir Fatha sudah cukup mengantuk.

#harike13 #Tantangan10hari #GayaBelajarAnak #KuliahBunSayIIP #GameLevel4