Tentang #projectofgratitude

Aliran Rasa, Curhat, Family, Melatih Kecerdasan

Kita boleh jadi akan mati, tapi tulisan kita masih bisa memberi arti

Anonim

Menulis adalah salah satu aktivitas yang awalnya saya jalani dengan keterpaksaan. Saat masih menjadi siswa SD, ujian Bahasa Indonesia dengan topik mengarang indah selalu menjadi mimpi buruk. Saya merasa kosakata terbatas pada itu-itu saja. Beranjak dewasa, qodarullah profesi saya mengharuskan menulis sebagai kegiatan utamanya. Berat memang. Sampai sekarang saya masih merasa kemampuan menulis saya berada di bawah rata-rata.

Kesadaran untuk tetap menulis dengan segala keterbatasan tersebut kembali muncul setelah #elfathamirza lahir. Teringat saat masih kanak-kanak, ibu sering mendongeng untuk saya bukan dengan buku cerita, melainkan dengan kisah hidupnya. Saya selalu tertarik dengan dongeng ibu karena selalu berkisah tentang tempat, keadaan, dan tokoh-tokoh yang baru (meskipun kemudian saya menyadari, dongeng impromptu ini adalah strategi cerdik ibu mengatasi kekurangan buku bacaan anak-anaknya 🙈)

Saya kemudian berpikir, betapa seorang anak sangat mengagumi orang tuanya. Bahwa sepenggal kisah yang menurut kita biasa, bisa jadi segalanya di mata mereka.

Sejak saat itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Melalui #projectofgratitude yang sempat mati suri selama dua tahun, saya kembali menemukan semangat bercerita. Saat ini saya sudah mulai mencicipi manfaatnya, meskipun masih berupa remah-remah saja.

Menulis buat saya adalah media untuk membangun konsentrasi. Sebagai orang yang sangat gampang terdistraksi, menulis memudahkan saya fokus pada apa yang sedang saya lakukan.

Menulis meminimalisir emosi negatif sehingga menghindarkan saya dari marah tanpa sebab dan sedih berlebihan. Suami sangat mendukung ikhtiar saya menulis apa saja, karena mengurangi waktu (belanja, ehm) online.

Menulis membantu saya membangun portofolio untuk #elfathamirza. Ketika membutuhkan ide bermain bersamanya, saya bisa membuka-buka kembali halaman lama.

Mengapa online?

Beberapa kali saya kehilangan cerita, foto, dan dokumen lama di gawai. Menyimpan secara online merupakan ikhtiar untuk mengabadikan cerita yang semoga bisa menjadi kenangan berharga untuk Si Kecil.

Sejak proses kehilangan itu, saya mulai mengumpulkan semangat kembali untuk menulis karya. Apa saja. Tentang kisah keseharian dalam bentuk blog, artikel populer, maupun ilmiah. (Dua poin terakhir menjadi PR besar saya tahun 2019 ini, mohon doanya). Saya berharap tulisan saya bisa memberikan manfaat bukan hanya untuk saya, namun juga orang lain yang membacanya. Semoga ada sesuatu yang masih bisa dikenang dan bermanfaat untuk sekitar meskipun saya sudah tiada.

Bismillah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s