Melatih Kemandirian Day #15

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Fatha. Setelah ia mau melepas sendiri celananya saat akan mandi (tentunya dengan diiringi berlari-larian dan memanjat-manjat), acara cibung-cibung berlangsung damai. Ia bersedia mandi dengan tenang sambil berendam di dalam ember kesayangannya sementara saya sempat mencuci beberapa potong pakaian.

Setelah beranjak dari kamar mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Fatha bersedia ganti baju sendiri dengan bantuan Sang Ibu. Saya cukup takjub dengan kerja samanya.

Ternyata cerita belum berhenti di situ. Saat saya lengah membalikkan badan untuk mengambil body lotion, tadaaaaa

PicsArt_10-22-10.15.33

Pakaian bersih yang sudah dilipat dan siap masuk lemari sedang dalam kondisi aporak poranda. Fatha sudah menemukan permainan baru: memanjat tumpukan baju dalam keranjang pakaian ^^;

Perasaan saya campur aduk antara geli Fatha kreatif menemukan permainan baru dan sedih karena hasil kerja tadi sepagian roboh karena aksi Fatha.

Mari syukuri saja. Toh kamar berantakan bak kapal pecah masih bisa dirapikan saat Fatha tidur 🙂

#Harike15
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Advertisements

Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”)

Family, Life

Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga berkualitas “A”. Acara yang diberi judul “A” Home Team itu mengundang Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto dari Padepokan Margosari yang sudah banyak dikenal sebagai penggagas Ibu Profesional, School of Life Lebah Putih, Jaritmatika, dan banyak komunitas lainnya.

Saya dan Suami sebenarnya sudah sejak beberapa minggu sebelumnya tertarik mengikuti acara ini. Duluuu sekali saat Fatha belum lahir, kami pernah mengikuti acara tadabur alam yang diselenggarakan oleh CBE dan berkesempatan mendengarkan kisah-kisah beliau. Rasanya ingin mengisi kembali semangat kami dalam membangun cita-cita keluarga.

Sayangnya, acara tersebut dijadwalkan hampir berbarengan dengan acara kantor Suami yang mana beliau terlibat sebagai panitia. Suami berjanji akan memberikan kepastian mengenai bisa tidaknya hadir saat H-1.

Alhamdulillah di hari yang dijanjikan, beliau menyampaikan kabar gembira. Atasan Suami memberikan lampu hijau atas izin yang disampaikan suami, dengan catatan pada Hari Sabtu sebelum pukul 18.00, Suami sudah tiba di venue acara.

Secepat kilat kami mendaftar untuk acara tersebut dan kami bersyukur masih ada seat 🙂

Sebelum Acara

Meskipun panitia menyediakan Kids Corner bagi keluarga yang membawa anak, kami sepakat untuk menitipkan Fatha bersama Uti. Alasannya, usia minimal untuk anak dititipkan di Kids Corner adalah 24 bulan. Fatha belum memenuhi syarat. Sebenarnya bisa saja kami mengajak Fatha masuk ke dalam ruang kelas sepanjang acara. Namun mengingat betapa aktifnya Fatha saat ini, kami tidak berani mengambil risiko acara belajar jadi terganggu dengan keasyikan bermain bersama Si Kecil.

Akhirnya saya berangkat hanya berdua saja bersama Suami.

Sesampainya di venue, Hotel Laras Asri Salatiga, kami sempat takjub dengan background panggung. Penggunaan MMT sudah telalu mainstream sehingga panitia memilih memanfaatkan glass board sebagai media membuat background. Menurut cerita Mbak Ade (Rumah Jelajah) sebagai Bu Lurah CBE Kampung Juara, ide menggunakan glass board ini muncul tiba-tiba. Berkat tangan dingin Mas Kliwon, dalam waktu 1 jam, jadilah hasil karya berikut ini.

PicsArt_10-21-09.19.23

Tentunya penggunaan media ini lebih less waste karena meminimalisir MMT yang hanya dapat digunakan sekali. Cocok dengan konsep yang diusung oleh CBE Kampung juara, zero waste. Konsep zero waste ini sudah terasa saat mendaftar ulang. Kami disambut oleh ceria dan ramahnya anak-anak Kampung Juara yang memberikan name tag serta satu buah cangkir untuk masing-masing peserta yang hadir. Panitia menyediakan air mineral dalam dispenser di belakang ruangan sehingga peserta bisa sewaktu-waktu mengisi ulang botol minum atau cangkirnya.

Berlangsungnya Acara

Acara tepat dimulai pukul 08.30 sesuai rencana. Kami disambut oleh penampilan anak-anak Kampung Juara: Young Wish Band dan sambutan dalam 3 bahasa, Bahasa Inggris, Korea, Dan Jawa, yang dibawakan dengan sangat fasih oleh Mbak Devi.

“A” Home Team merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian  workshop mengenai keluarga. Selain materi dasar ini, diagendakan dalam 2 bulan ke depan akan diselenggarakan workshop serupa dengan tema family strategic planning.

Bu Septi mengawali materinya dengan menyampaikan oleh-oleh dari Silicon Valley, USA, markas Facebook. Bu Septi berkisah mengenai kronologis bagaimana akhirnya dapat bergabung dengan Facebook Community Leadership Program dengan berbekal kemantapan hati, kepercayaan diri, dan niat yang tulus mendedikasikan diri untuk anak-anaknya. Di tengah keterbatasan bahasa, Bu Septi dengan percaya dirinya menulis proposal dalam Bahasa Indonesia meski seleksi diadakan oleh perusahaan multinasional, meyakini bahwa tim penyeleksi akan menemukan cara menerjemahkan proposal tersebut.

Beliau juga menceritakan tentang negosiasi yang dilakukan dengan pihak panitia hingga akhirnya Mbak Ara, putri keduanya, dapat ikut mendampingi beliau di Amerika. Dengan bangga beliau berkisah bahwa pada acara yang diselenggarakan oleh Facebook itu, Mbak Ara yang menjadi bintangnya. Bu Septi justru dikenal sebagai “Ibunya Ara”.

Satu hal yang berkesan bagi saya, Bu Septi selalu menekankan bahwa kemuliaan ibu ada pada anaknya. Ketika segala daya upaya orang tua diniatkan untuk anaknya, maka hasil yang diperoleh pun lebih spektakuler apabila dibandingkan dengan pekerjakan atau kegiatan yang diniatkan untuk kepentingan atau nama baiknya sendiri.

Selain itu Bu Septi kembali mengingatkan saya bahwa kita sebagai orang tua harus menyelesaikan tugas mendidik anak sesuai fitrahnya saat pre akil baligh. Maka ketika anak-anak sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan akil baligh, mereka sudah tahu ke mana harus melangkah dan apa tujuan hidup mereka. Anak kemudian menjadi pengambil keputusan atas hidup mereka sendiri.

Kembali pada tema membentuk keluarga berkualitas “A”, Bu Septi dan Pak Dodik memberikan kami latihan untuk dipraktekkan. Masing-masing keluarga diminta membuat diagram venn pada kertas flip chart yang sudah disediakan. Masing-masing lingkaran merepresentasikan satu individu dalam keluarga, dalam hal ini suami dan istri. Selanjutnya masing-masing lingkaran tersebut diisi dengan aktivitas yang sering dilakukan oleh masing-masing pasangan. Diidentifikasi pula aktivitas mana yang sering dipermasalahkan oleh pasangannya. Tak lupa pada bagian irisan kedua lingkaran dituliskan aktivitas yang sering dan dapat dilakukan bersama-sama.

Setelah aktivitas-aktivitas tersebut teridentifikasi, kami diminta untuk mencari solusi bagi aktivitas yang menjadi masalah bagi pasangannya.

Dalam kasus saya dan suami, misalnya, main games adalah salah satu kegiatan suami yang saya kurang suka. Pasalnya waktu bersama yang kami miliki sebagai pasangan cukup terbatas. Di saat kami dapat bertemu di akhir pekan, saya berharap suami dapat mencurahkan waktunya untuk saya dan putra kami. Ternyata, suami juga kurang menyukai sifat saya yang kurang disiplin. Ketika berencana akan keluar bersama, saya biasanya menghabiskan waktu lebih lama dari yang sudah disepakati.

Akhirnya muncul sebuah solusi, waktu untuk persiapan pergi harus dibuat lebih awal. Selama suami menunggu saya, ia diperbolehkan untuk memainkan game favoritnya.

Sesimpel itu 🙂

PicsArt_10-21-08.57.20.jpg

Diagram venn yang sudah kami buat itu kemudian dapat ditambahkan sesuai jumlah anggota keluarga yang ada. Nantinya di rumah, kami perlu memasang kertas tersebut di tempat yang mudah diakses oleh seluruh anggota keluarga sehingga dapat diisi oleh siapa saja. Dengan begitu kami dengan mudah dapat mengidentifikasi aktivitas menyenangkan apa yang dapat kami lakukan bersama-sama. Kami juga bisa memberikan kritikan atau masukan mengenai kegiatan atau aktivitas anggota keluarga lain yang dirasa membuat diri sendiri kurang nyaman.

Oh iya, kami juga diminta menuliskan indikator sebuah keluarga dapat dikategorikan berkualitas “A”. Indikator ini sifatnya customized, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing keluarga. Artinya, kebahagiaan keluarga kami hanya ditentukan oleh keluarga kami sendiri dan bukan oleh keluarga lain. Kami tidak perlu membandingkan atau melirik keluarga lain untuk bisa bahagia dan mencapai impian kami.

Indikator ini haruslah sesuatu yang dapat diukur. Misalnya, kami bahagia jika komunikasi berjalan dengan baik. Indikatornya adalah minimal sekali dalam seminggu, kami dapat berdiskusi mengenai evaluasi kegiatan seminggu yang lalu serta rencana kegiatan seminggu ke depan.

Tahapan yang diperlukan untuk membentuk “A” Home Team adalah:

  1. Membentuk tim

Ciri-ciri sebuah tim adalah memiliki tujuan dan tata nilai bersama. Selain itu tim harus memiliki cara berkomunikasi koordinasi yang baik.

  1. Menentukan target dan indikator keberhasilan
  2. Menentukan peran masing-masing

Dalam kasus keluarga kami dengan usia anak masih 1 tahun, menentukan peran anak memang cukup tricky. Berdasarkan pengalaman Bu Septi, pada usia 0-5 tahun, orang tua perlu memposisikan diri sebagai teman bermain Si Kecil. Untuk mengajarkan tanggung jawab, anak perlu diberi kesempatan menjadi manajer dengan pilihan peran yang ia tentukan. Contohnya saat anak memlih menjadi manajer toilet, orang tua menjelaskan tugas apa yang harus ia lakukan. Anak juga perlu ditanyai indikator sukses menurut versinya. Pengalaman Mbak Enes, putri pertama Bu Septi dan Pak Dodik, ia diberi kesempatan menjadi manajer toilet selama 2 jam, dan anggota keluarga lain dipersilakan makan di toilet.. Anak diberikan atribut sebagai manajer, misalnya topi atau emblem.

PicsArt_10-21-08.54.58.jpg

Mendengarkan kisah keluarga Padepokan Margosari yang inspiratif membuat saya dan suami makin bersemangat untuk menentukan mimpi yang tinggi, namun dapat dijangkau. Beberapa ide di kepala kami perlu untuk dikeluarkan dengan brainstorming dan dipetakan strategi untuk merealisasikannya.

Terlebih ketika kami bertemu dengan keluarga lain yang terlihat lebih “matang” dalam hal konsep dan tujuan hidupnya. Contohnya “Doyan Dolan” milik Keluarga Pak Lukmanul Hakim dan Bunda Noor Widyaningsih. Mereka memantapkan hati berbagi ilmu mengenai parenting dan jahit-menjahit melalui kegiatan “jalan-jalan”.

Beruntungnya kami, di akhir sesi acara, saat door prize dibagikan, kami sempat mendapatkan tote bag lucu dari Pol.Ja milik Bunda Noor. Alhamdulillah 🙂

PicsArt_10-21-09.15.06.png

Nb: door prize yang kami dapatkan berdasarkan penilaian panitia untuk kategori pasangan paling mesra. Saya dan suami tertawa geli sepulangnya dari acara. Tidak menyangka anggapan “mesra” dinobatkan pada kami. Usut punya usut, salah satu panitia menyatakan bahwa pada saat sesi awal melihat saya dan suami bertangisan. Hehehe.

Bagaimana bisa?

Jadi ketika di awal materi Bu Septi meminta masing-masing pasangan berhadap-hadapan, saling memegang paha, dan menyatakan pada pasangan betapa hebatnya dulu saat pertama kali berjumpa, saya dan suami yang sama-sama melankolis tiba-tiba flashback ke masa 5 tahun lalu. Saya jadi teringat betapa banyak kesalahan saya pada suami dan betapa ia dengan sabar memaafkan kesalahan, keegoisan, bahkan tak segan membimbing saya menjadi istri dan ibu yang lebih baik.

Apalagi saat panitia memberi kesempatan untuk saling memeluk pasangan, spontan kami berpelukan.

Di akhir acara barulah kami tersadar, kami adalah pasangan paling “lebay” (dalam arti yang baik tentu saja 😀