Menumbuhkan Kemandirian Si Kecil

Aliran Rasa, bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Mengapa perlu melatih kemandirian?

Tentu saja karena tidak selamanya kita sebagai orang tua dapat terus berada di samping anak, menjaganya, dan mendampinginya. Pada suatu titik, orang tua harus melepas anak menghadapi dunianya sendiri. Semakin dini anak diperkenalkan pada kemandirian, maka anak akan lebih cepat mandiri.

Fitrah anak adalah ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Ia akan dengan mudah meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kita sebagai orang tua dapat memanfaatkan kesempatan ini, dengan memanipulasi keadaan sehingga anak dipaksa untuk mandiri. Tidak ada salahnya memberikan tantangan pada anak-anak dan meminimalisir bantuan. Seperti halnya orang dewasa, tantangan ini dibuat sekiranya pada batas maksimal kemampuan anak. Di batas maksimal yang dapat dicapai ini, anak akan berusaha dengan sekuat tenaga, sehingga kemampuannya berkembang dengan baik.

What doesn’t kill you makes you stronger

Apakah tolak ukur kemampuan ini? Menurut Pak Dodik yang kata-katanya sudah pernah saya tulis pada postingan ini, takarannya adalah tega. Orang tua haruslah tega untuk menahan diri tidak segera memberikan bantuan. Orang tua mesti tega melihat anaknya bersusah payah terlebih dahulu untuk dapat meraih keinginan.

Bagaimana caranya?

Tentunya semua dilakukan secara bertahap, dimulai dari level tantangan paling mudah yang sekiranya anak bisa melakukan. Sedikit demi sedikit tingkat kesulitan bisa ditambah. Orang tua bisa merasakan seberapa ambang batas toleransi anak.

Berdasarkan pengalaman dengan Fatha, langkah yang saya lakukan adalah:

Membuat target latihan untuk Si Kecil

Saat mendapatkan materi melatih kemandirian untuk anak, saya menyambut antusias tantangan yang diberikan. Saat itu saya optimis Fatha akan menikmati setiap game tantangan yang kami siapkan.

Jadi di hari pertama setelah kuliah Bunsay mengenai kemandirian, saya sudah membuat daftar jenis-jenis latihan apa saja yang sekiranya cocok diterapkan untuk Fatha. Dari sekian banyak aktivitas yang berhasil kami identifikasi, secara umum ada 2 kegiatan besar yang kami pilih yaitu:

  1. Berpakaian, meliputi aktivitas memilih pakaian yang akan digunakan, melepas, serta mengenakan baju
  2. Aktivitas merapikan, termasuk merapikan mainan dan meletakkan kembali barang pada tempatnya

Kedua aktivitas besar itu kemudian saya susun dalam wujud habit tracker dan dijadikan checklist untuk pencapaian Fatha. Setiap selesai melaksanakan tantangan, saya memberikan tanda di kolom hari pada baris jenis tantangan yang sudah dikerjakan. Tanda lingkaran jika hasilnya masih belum sesuai harapan, atau tanda bintang jika dirasa Fatha sudah mampu bekerja sama dengan baik.

PicsArt_10-23-03.07.49

Untuk jangka panjang, saya bercita-cita habit tracker ini ditulis dalam lembaran kertas yang lebih besar sehingga dapat ditempel di dinding. Setiap satu tugas ditunaikan dengan baik, Fatha mendapatkan sebuah stiker bintang untuk ditempelkan. Tentunya hal ini akan lebih menarik buat Fatha.

Sounding kepada Si Kecil, termasuk menyampaikan maksud dan tujuan

Segala sesuatu yang melibatkan Fatha, sebisa mungkin kami sampaikan padanya. Apa saja harapan kami terhadapnya juga kami komunikasikan. Misalnya ketika kemarin saya dan Ayah Fatha sepakat untuk mengajarkan Fatha mandiri dalam hal berpakaian. Saat informasi tersebut belum disampaikan, Fatha masih menganggapnya sambil lalu. Ternyata begitu hari berikutnya kami coba ajak bicara, Fatha menyambut baik aktivitas lepas-lepas baju 🙂

Konsisten menjalankan latihan

Lagi-lagi sedikit oleh-oleh dari Workshop “A” Home Team kemarin. Keluarga Padepokan Margosari memberikan pernyataan yang membuat saya dan suami merenung,

Pembiasaan adalah untuk binatang. Melatih binatang untuk bisa melakukan sesuatu adalah dengan dibiasakan. Manusia dapat dibedakan dari binatang karena kemampuannya berpikir.

Oleh sebab itu, mendidik anak memerlukan aktivitas berpikir. Artinya kita sebagai orang tua tidak hanya memberikan instruksi dan berharap anak serta-merta menuruti. Melibatkan anak untuk memperhatikan sebab dan akibat atau konsekuensi atas tindakan yang tidak atau yang justru dilakukan bisa menjadi salah satu solusi.

Contoh kasusnya begini. Saat itu Fatha masih asyik bermain dengan kabel dan pengisi daya ponsel saya walau sudah saatnya ia mandi pagi. Padahal saya juga sudah harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Saya menyampaikan pada Fatha,

“Nak, sudah saatnya mandi. Semakin lama Fatha main, waktu  cibung-cibungnya berkurang lho. Mari mandi sekarang”.

Harapan saya, Fatha sudah terbiasa memahami sebab-akibat segala sesuatu sehingga ia dapat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih. Bukan hanya sekedar terbiasa melakukan sesuatu.

Mengucapkan terima kasih

Salah satu bentuk reward yang sepakat untuk kami berikan pada Fatha setiap kali ia berhasil adalah ucapan terima kasih yang tulus. Kadang bentuk penghargaan yang spontan berupa tepuk tangan juga kami lakukan. Bentuk apresiasi yang sederhana ini diharapkan lebih mengena buat Fatha. Ada saatnya Fatha lebih dulu bertepuk tangan untuk dirinya sendiri jika ia berhasil melakukan pencapaian.

Semoga Fatha selalu jadi anak yang bahagia ya Nak 🙂

#AliranRasa

#GameLevel2

#Level2
#KuliahBundaSayang

#Bunsay4
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

 

Sumber Bacaan

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Materi #2 Program Bunda Sayang Batch #4. 2018

Advertisements

Melatih Kemandirian Day #16

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ini merupakan hari terakhir kesempatan mengumpulkan tantangan 10 hari melatih kemandirian. Kegiatan mandi Fatha sedikit tertunda karena keasyikannya bermain-main.

Jadi Fatha sedang senang-senangnya dengan segala macam kabel dan colokan. Setiap saya lengah, tiba-tiba ia sudah asyik bermain dengan kabel charger dan kepalanya, atau headphone dengan kabel yang sudah terurai.

PicsArt_10-22-10.09.43

Pernah sekali saya kecolongan, headphone kesayangan saya sudah “dicolokkan” di teralis jendela entah sejak kapan. Ketika saya coba gunakan, tiada suara terdengar. Hiks..

Karena waktu mandi sempat tertunda oleh acara bermain, saya cukup terburu-buru mengajaknya mandi. Alhamdulillah Fatha cukup mengerti keterbatasan waktu saya, dan ia menurut saat saya minta segera melepas pakaian.

Acara mandi pagi berlangsung cepat dan tepat karena minus berendam a.k.a. cibung-cibung. Setelahnya, dengan badan dibalut handuk, ia menggelendot manja sambil berujar, “nin”..

Kesempatan bagi saya untuk membujuknya, “Segera pakai baju yuk Nak, supaya badannya tidak dingin lagi..”

Dan Fatha menurut.

Terima kasih Nak 🙂

#Harike16
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #15

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ini banyak kejutan yang diberikan oleh Fatha. Setelah ia mau melepas sendiri celananya saat akan mandi (tentunya dengan diiringi berlari-larian dan memanjat-manjat), acara cibung-cibung berlangsung damai. Ia bersedia mandi dengan tenang sambil berendam di dalam ember kesayangannya sementara saya sempat mencuci beberapa potong pakaian.

Setelah beranjak dari kamar mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Fatha bersedia ganti baju sendiri dengan bantuan Sang Ibu. Saya cukup takjub dengan kerja samanya.

Ternyata cerita belum berhenti di situ. Saat saya lengah membalikkan badan untuk mengambil body lotion, tadaaaaa

PicsArt_10-22-10.15.33

Pakaian bersih yang sudah dilipat dan siap masuk lemari sedang dalam kondisi aporak poranda. Fatha sudah menemukan permainan baru: memanjat tumpukan baju dalam keranjang pakaian ^^;

Perasaan saya campur aduk antara geli Fatha kreatif menemukan permainan baru dan sedih karena hasil kerja tadi sepagian roboh karena aksi Fatha.

Mari syukuri saja. Toh kamar berantakan bak kapal pecah masih bisa dirapikan saat Fatha tidur 🙂

#Harike15
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”)

Family, Life

Sabtu (20/10) lalu, Community Based Education (CBE) Kampung Juara menyelenggarakan sebuah workshop mengenai bagaimana membentuk keluarga berkualitas “A”. Acara yang diberi judul “A” Home Team itu mengundang Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto dari Padepokan Margosari yang sudah banyak dikenal sebagai penggagas Ibu Profesional, School of Life Lebah Putih, Jaritmatika, dan banyak komunitas lainnya.

Saya dan Suami sebenarnya sudah sejak beberapa minggu sebelumnya tertarik mengikuti acara ini. Duluuu sekali saat Fatha belum lahir, kami pernah mengikuti acara tadabur alam yang diselenggarakan oleh CBE dan berkesempatan mendengarkan kisah-kisah beliau. Rasanya ingin mengisi kembali semangat kami dalam membangun cita-cita keluarga.

Sayangnya, acara tersebut dijadwalkan hampir berbarengan dengan acara kantor Suami yang mana beliau terlibat sebagai panitia. Suami berjanji akan memberikan kepastian mengenai bisa tidaknya hadir saat H-1.

Alhamdulillah di hari yang dijanjikan, beliau menyampaikan kabar gembira. Atasan Suami memberikan lampu hijau atas izin yang disampaikan suami, dengan catatan pada Hari Sabtu sebelum pukul 18.00, Suami sudah tiba di venue acara.

Secepat kilat kami mendaftar untuk acara tersebut dan kami bersyukur masih ada seat 🙂

Sebelum Acara

Meskipun panitia menyediakan Kids Corner bagi keluarga yang membawa anak, kami sepakat untuk menitipkan Fatha bersama Uti. Alasannya, usia minimal untuk anak dititipkan di Kids Corner adalah 24 bulan. Fatha belum memenuhi syarat. Sebenarnya bisa saja kami mengajak Fatha masuk ke dalam ruang kelas sepanjang acara. Namun mengingat betapa aktifnya Fatha saat ini, kami tidak berani mengambil risiko acara belajar jadi terganggu dengan keasyikan bermain bersama Si Kecil.

Akhirnya saya berangkat hanya berdua saja bersama Suami.

Sesampainya di venue, Hotel Laras Asri Salatiga, kami sempat takjub dengan background panggung. Penggunaan MMT sudah telalu mainstream sehingga panitia memilih memanfaatkan glass board sebagai media membuat background. Menurut cerita Mbak Ade (Rumah Jelajah) sebagai Bu Lurah CBE Kampung Juara, ide menggunakan glass board ini muncul tiba-tiba. Berkat tangan dingin Mas Kliwon, dalam waktu 1 jam, jadilah hasil karya berikut ini.

PicsArt_10-21-09.19.23

Tentunya penggunaan media ini lebih less waste karena meminimalisir MMT yang hanya dapat digunakan sekali. Cocok dengan konsep yang diusung oleh CBE Kampung juara, zero waste. Konsep zero waste ini sudah terasa saat mendaftar ulang. Kami disambut oleh ceria dan ramahnya anak-anak Kampung Juara yang memberikan name tag serta satu buah cangkir untuk masing-masing peserta yang hadir. Panitia menyediakan air mineral dalam dispenser di belakang ruangan sehingga peserta bisa sewaktu-waktu mengisi ulang botol minum atau cangkirnya.

Berlangsungnya Acara

Acara tepat dimulai pukul 08.30 sesuai rencana. Kami disambut oleh penampilan anak-anak Kampung Juara: Young Wish Band dan sambutan dalam 3 bahasa, Bahasa Inggris, Korea, Dan Jawa, yang dibawakan dengan sangat fasih oleh Mbak Devi.

“A” Home Team merupakan salah satu tahapan dalam rangkaian  workshop mengenai keluarga. Selain materi dasar ini, diagendakan dalam 2 bulan ke depan akan diselenggarakan workshop serupa dengan tema family strategic planning.

Bu Septi mengawali materinya dengan menyampaikan oleh-oleh dari Silicon Valley, USA, markas Facebook. Bu Septi berkisah mengenai kronologis bagaimana akhirnya dapat bergabung dengan Facebook Community Leadership Program dengan berbekal kemantapan hati, kepercayaan diri, dan niat yang tulus mendedikasikan diri untuk anak-anaknya. Di tengah keterbatasan bahasa, Bu Septi dengan percaya dirinya menulis proposal dalam Bahasa Indonesia meski seleksi diadakan oleh perusahaan multinasional, meyakini bahwa tim penyeleksi akan menemukan cara menerjemahkan proposal tersebut.

Beliau juga menceritakan tentang negosiasi yang dilakukan dengan pihak panitia hingga akhirnya Mbak Ara, putri keduanya, dapat ikut mendampingi beliau di Amerika. Dengan bangga beliau berkisah bahwa pada acara yang diselenggarakan oleh Facebook itu, Mbak Ara yang menjadi bintangnya. Bu Septi justru dikenal sebagai “Ibunya Ara”.

Satu hal yang berkesan bagi saya, Bu Septi selalu menekankan bahwa kemuliaan ibu ada pada anaknya. Ketika segala daya upaya orang tua diniatkan untuk anaknya, maka hasil yang diperoleh pun lebih spektakuler apabila dibandingkan dengan pekerjakan atau kegiatan yang diniatkan untuk kepentingan atau nama baiknya sendiri.

Selain itu Bu Septi kembali mengingatkan saya bahwa kita sebagai orang tua harus menyelesaikan tugas mendidik anak sesuai fitrahnya saat pre akil baligh. Maka ketika anak-anak sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan akil baligh, mereka sudah tahu ke mana harus melangkah dan apa tujuan hidup mereka. Anak kemudian menjadi pengambil keputusan atas hidup mereka sendiri.

Kembali pada tema membentuk keluarga berkualitas “A”, Bu Septi dan Pak Dodik memberikan kami latihan untuk dipraktekkan. Masing-masing keluarga diminta membuat diagram venn pada kertas flip chart yang sudah disediakan. Masing-masing lingkaran merepresentasikan satu individu dalam keluarga, dalam hal ini suami dan istri. Selanjutnya masing-masing lingkaran tersebut diisi dengan aktivitas yang sering dilakukan oleh masing-masing pasangan. Diidentifikasi pula aktivitas mana yang sering dipermasalahkan oleh pasangannya. Tak lupa pada bagian irisan kedua lingkaran dituliskan aktivitas yang sering dan dapat dilakukan bersama-sama.

Setelah aktivitas-aktivitas tersebut teridentifikasi, kami diminta untuk mencari solusi bagi aktivitas yang menjadi masalah bagi pasangannya.

Dalam kasus saya dan suami, misalnya, main games adalah salah satu kegiatan suami yang saya kurang suka. Pasalnya waktu bersama yang kami miliki sebagai pasangan cukup terbatas. Di saat kami dapat bertemu di akhir pekan, saya berharap suami dapat mencurahkan waktunya untuk saya dan putra kami. Ternyata, suami juga kurang menyukai sifat saya yang kurang disiplin. Ketika berencana akan keluar bersama, saya biasanya menghabiskan waktu lebih lama dari yang sudah disepakati.

Akhirnya muncul sebuah solusi, waktu untuk persiapan pergi harus dibuat lebih awal. Selama suami menunggu saya, ia diperbolehkan untuk memainkan game favoritnya.

Sesimpel itu 🙂

PicsArt_10-21-08.57.20.jpg

Diagram venn yang sudah kami buat itu kemudian dapat ditambahkan sesuai jumlah anggota keluarga yang ada. Nantinya di rumah, kami perlu memasang kertas tersebut di tempat yang mudah diakses oleh seluruh anggota keluarga sehingga dapat diisi oleh siapa saja. Dengan begitu kami dengan mudah dapat mengidentifikasi aktivitas menyenangkan apa yang dapat kami lakukan bersama-sama. Kami juga bisa memberikan kritikan atau masukan mengenai kegiatan atau aktivitas anggota keluarga lain yang dirasa membuat diri sendiri kurang nyaman.

Oh iya, kami juga diminta menuliskan indikator sebuah keluarga dapat dikategorikan berkualitas “A”. Indikator ini sifatnya customized, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing keluarga. Artinya, kebahagiaan keluarga kami hanya ditentukan oleh keluarga kami sendiri dan bukan oleh keluarga lain. Kami tidak perlu membandingkan atau melirik keluarga lain untuk bisa bahagia dan mencapai impian kami.

Indikator ini haruslah sesuatu yang dapat diukur. Misalnya, kami bahagia jika komunikasi berjalan dengan baik. Indikatornya adalah minimal sekali dalam seminggu, kami dapat berdiskusi mengenai evaluasi kegiatan seminggu yang lalu serta rencana kegiatan seminggu ke depan.

Tahapan yang diperlukan untuk membentuk “A” Home Team adalah:

  1. Membentuk tim

Ciri-ciri sebuah tim adalah memiliki tujuan dan tata nilai bersama. Selain itu tim harus memiliki cara berkomunikasi koordinasi yang baik.

  1. Menentukan target dan indikator keberhasilan
  2. Menentukan peran masing-masing

Dalam kasus keluarga kami dengan usia anak masih 1 tahun, menentukan peran anak memang cukup tricky. Berdasarkan pengalaman Bu Septi, pada usia 0-5 tahun, orang tua perlu memposisikan diri sebagai teman bermain Si Kecil. Untuk mengajarkan tanggung jawab, anak perlu diberi kesempatan menjadi manajer dengan pilihan peran yang ia tentukan. Contohnya saat anak memlih menjadi manajer toilet, orang tua menjelaskan tugas apa yang harus ia lakukan. Anak juga perlu ditanyai indikator sukses menurut versinya. Pengalaman Mbak Enes, putri pertama Bu Septi dan Pak Dodik, ia diberi kesempatan menjadi manajer toilet selama 2 jam, dan anggota keluarga lain dipersilakan makan di toilet.. Anak diberikan atribut sebagai manajer, misalnya topi atau emblem.

PicsArt_10-21-08.54.58.jpg

Mendengarkan kisah keluarga Padepokan Margosari yang inspiratif membuat saya dan suami makin bersemangat untuk menentukan mimpi yang tinggi, namun dapat dijangkau. Beberapa ide di kepala kami perlu untuk dikeluarkan dengan brainstorming dan dipetakan strategi untuk merealisasikannya.

Terlebih ketika kami bertemu dengan keluarga lain yang terlihat lebih “matang” dalam hal konsep dan tujuan hidupnya. Contohnya “Doyan Dolan” milik Keluarga Pak Lukmanul Hakim dan Bunda Noor Widyaningsih. Mereka memantapkan hati berbagi ilmu mengenai parenting dan jahit-menjahit melalui kegiatan “jalan-jalan”.

Beruntungnya kami, di akhir sesi acara, saat door prize dibagikan, kami sempat mendapatkan tote bag lucu dari Pol.Ja milik Bunda Noor. Alhamdulillah 🙂

PicsArt_10-21-09.15.06.png

Nb: door prize yang kami dapatkan berdasarkan penilaian panitia untuk kategori pasangan paling mesra. Saya dan suami tertawa geli sepulangnya dari acara. Tidak menyangka anggapan “mesra” dinobatkan pada kami. Usut punya usut, salah satu panitia menyatakan bahwa pada saat sesi awal melihat saya dan suami bertangisan. Hehehe.

Bagaimana bisa?

Jadi ketika di awal materi Bu Septi meminta masing-masing pasangan berhadap-hadapan, saling memegang paha, dan menyatakan pada pasangan betapa hebatnya dulu saat pertama kali berjumpa, saya dan suami yang sama-sama melankolis tiba-tiba flashback ke masa 5 tahun lalu. Saya jadi teringat betapa banyak kesalahan saya pada suami dan betapa ia dengan sabar memaafkan kesalahan, keegoisan, bahkan tak segan membimbing saya menjadi istri dan ibu yang lebih baik.

Apalagi saat panitia memberi kesempatan untuk saling memeluk pasangan, spontan kami berpelukan.

Di akhir acara barulah kami tersadar, kami adalah pasangan paling “lebay” (dalam arti yang baik tentu saja 😀

Melatih Kemandirian Day #14

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Perjalanan melatih kemandirian bagi Fatha memang seru-seru menggemaskan. Ada saja ulahnya untuk menghindar dari latihan ini. Seperti beralasan meminta “nenen” di tengah acara ganti baju pasca mandi. Atau melarikan diri dari kamar tidur ketika saya sedang merayunya untuk memakai celana sendiri.

Oya, salah satu alasan mengapa melepas baju dan mengenakan celana sendiri menjadi target latihan kemandirian Fatha adalah karena kami menargetkan untuk mulai membiasakannya toilet training pada usia 18 bulan. Dalam waktu 2 bulan ini kami berharap Fatha sudah mampu melepas dan memakai celana sendiri sehingga latihan toilet training dapat berjalan lancar, Insya Allah.

Mengenai latihan kemandirian ini, ada oleh-oleh menarik dari acara Workshop “A” Home Team di Salatiga kemarin.

Pak Dodik Mariyanto menjelaskan bahwa membentuk keluarga itu haruslah berlandaskan pada kasih sayang. Untuk mendidik anak, takarannya adalah tega.

Tega yang membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh, menempa kemandiriannya, dan tentu saja tetap berlandaskan kasih sayang tadi.

Penjelasan Pak Dodik itu membuat saya dan suami berpandangan. Semakin memantapkan hati bahwa melatih Fatha mandiri memang butuh proses terus menerus dengan konsisten dan memerlukan kesabaran orang tuanya. Tidak masalah progressnya naik turun, yang penting kami membiarkan fitrahnya melakukan aktivitas secara mandiri dapat berkembang.

#Harike14
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Referensi

Dodik Mariyanto. 2018. Workshop “A” Home Team (Membangun Keluarga Berkualitas “A”) di Salatiga, 20 Oktober 2018.

Melatih Kemandirian Day #13

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Hari ketiga belas mengajarkan Fatha mengenai kemandirian, terutama dalam hal berpakaian, sudah terasa cukup konsisten. Ia mulai jarang merespon negatif instruksi melepas pakaian saat akan mandi. Ia juga senang diberi tugas meletakkan pakaian kotor pada tempatnya. Apalagi jika sudah diberi iming-iming “bermain air”.

Jadi kami mulai menambahkan tantangan level ini dengan memakai pakaian sendiri. Supaya tidak mengulangi kesalahan sebelumnya, kami mengajak Fatha ngobrol mengenai kesepakatan ini.

“Fatha sudah makin pintar melepas pakaian sendiri. Ibu bangga deh sama Fatha,” dan ia menjawab dengan tawa menggemaskan.

“Mulai hari ini, Fatha belajar pakai celana sendiri ya. Ibu bantu seperlunya,” sambung saya.

Pada prakteknya, belum bisa berjalan seperti harapan. Fatha masih asyik melarikan diri dari saya. Kita coba ulang besok pagi 🙂

#Harike13
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #12

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Beberapa minggu terakhir ini Fatha semakin bersemangat menyusu. Setiap melihat wajah ibunya, kata-kata pertama yang langsung muncul dari mulutnya adalah “nenen”. Dia akan langsung menggandeng saya, meskipun dalam kondisi baru pulang dari kerja yang notabene SOP rutin adalah mandi terlebih dahulu. Selanjutnya, ia menunjuk tempat tidur dan menginstruksikan, “bobok”.

Tak lupa Fatha menarik selimut ungu favoritnya dan memposisikan diri untuk menyusu. Saat-saat seperti inilah yang kadang masih membuat saya dilema. DI satu sisi saya belum membersihkan diri, di sisi lain ingin segera menunaikan hak menyusu buat anak.

Jalan tengah yang saya ambil adalah merayunya untuk rela bersabar menunggu saya mandi kilat. Kadang berhasil, seringnya gagal 😦

Hari kemarin, saya hitung selama 30 menit waktu istirahat kerja (30 menit sisanya untuk perjalanan pulang pergi), total Fatha meminta nenen 4 kali. Wow..

Sepertinya dalam waktu beberapa hari ke depan saya akan membuat kesepakatan dengan Fatha mengenai kewajiban saya minimal cuci tangan, kaki, dan wajah sebelum bermain dengannya.

Kembali pada topik melatih kemandirian, hari kemarin Fatha sudah makin bisa diandalkan untuk diberikan instruksi melepas pakaian dan meletakkannya ke dalam keranjang cucian. Kuncinya adalah memberikan pakaian yang cukup longgar serta mudah dilepas.

Ia juga sudah sering meminta sendok sendiri saat makan. Kadang jika sudah bosan, Fatha akan mulai gantian menyuapi saya atau Uti. Anak kecil memang paling jago menirukan.

#Harike12
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #11

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Setelah harus go-show ke Jakarta selama 1 hari, saya kemudian tepar. Beberapa pekerjaan di rumah terpaksa harus dipending dulu untuk dikerjakan, termasuk melipat baju dan merapikan lemari. Oh iya, saya tidak terlalu rajin menyeterika. Hanya pakaian-pakaian yang tertentu saja yang perlu diseterika, misalnya pakaian kerja dan pakaian untuk bepergian. Lainnya cukup dilipat dengan rapi dan masuk lemari. Cukup menghemat tenaga dan energi, baik energi listrik maupun energi Ibu Fatha 🙂

Saking teparnya, saya sampai lupa belum berkisah mengenai progress latihan kemandirian Fatha. Huhuhu..

Jadi hari kemarin Fatha bersemangat untuk segera mandi dan bermain air. Sepertinya karena hari sebelumnya diberikan akses untuk menyiram tanaman dan bermain selang, ia ingin mengulang keriaan itu..

Nah, kesempatan untuk menyisipkan lagi latihan kemandirian buat Fatha.

Saya meminta Fatha melepas pakaiannya sendiri, seperti biasa, ia sibuk bermain dan memilih untuk tetap berlarian ke teras depan. Saya rayu dengan kata kunci, “Mari Nak, kita bermain air, cibung-cibung, cipik-cipik.”

Dan benar saja, ia mendekat dan meminta saya untuk segera melepaskan pakaiannya. Saya pancing dengan membantu membuka kancing bajunya, dan Fatha bergegas melepas piyama serta kaos dalamnya. Saya masih ikut turun tangan membantu melepas celana panjangnya, namun kali ini tanpa drama.

Setelahnya, Fatha masih semangat meletakkan pakaiannya ke dalam keranjang. Lebih tepatnya “melempar”.

PicsArt_10-18-08.09.12

Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama Fatha hari itu..

#Harike11
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #10

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Perjalanan sepuluh hari berlatih kemandirian memang benar-benar menantang, bahkan untuk anak seusia Fatha. “Mendidik tidak bisa mendadak”. Jadi segala bentuk pembelajaran ini memang proses panjang yang tidak bisa instan. Kadang dijalani anak dengan suka cita dan terlihat lancar-lancar saja. Tak jarang anak memilih untuk melakukan tidak sesuai aturan main.

Fasilitator kami, Mbak Sindu, menguatkan, “Tidak cukup 17 hari melatih kemandirian. Butuh waktu sampai bertahun-tahun untuk membuat mereka mandiri. Pada dasarnya anak adalah pembelajar sejati, pasti ada rasa ingin bisa melakukan sendiri. Tinggal bagaimana respon kita, apakah akan memupuk fitrah atau justru tanpa sadar kita pupuskan. Jika yang kedua terjadi, maka kita sendiri yang akan kerepotan saat anak sulit untuk mandiri.

Menarik memang terlibat langsung dalam memilihkan dan membuatkan aturan untuk Fatha. Yang awalnya masih ragu-ragu dengan kemampuannya, makin hari makin penasaran dengan uji coba kemampuannya yang lain.,

Seperti hari ini, mendadak saya harus pergi ke luar kota di saat Fatha belum bangun. Saya kehilangan satu kesempatan untuk mengajarkannya konsisten melepas pakaian sendiri. Namun saya sudah berpesan pada Uti Fatha untuk tetap dapat melatih Fatha melepas pakaian sendiri, semampunya.

Sore tadi Uti melaporkan bahwa sebelum mandi, Fatha sudah bermain air dengan gayung dan ember. Dia sedang belajar menyiram tanaman, Uti berkisah. Fatha juga meminta selang air Uti dan mencoba menyemprotkan ke tanaman, realisasinya semprotan dilakukan ke segala arah, termasuk badan Fatha sendiri.

Fatha berteriak, “Nin, nin, pas, pas..” (dingin, dingin, lepas, lepas). Ternyata ia meminta dilepaskan bajunya. Uti membantu membuka kancing dan dilanjutkan oleh Fatha.

Setelahnya Fatha mandi sore dengan air hangat dan tidak mau berhenti bermain air..

Alhamdulillah, makin banyak aktivitas yang dijajal oleh Fatha dan terlihat pula keinginannya melakukan sendiri sampai bisa..

#Harike10
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Melatih Kemandirian Day #9

bunda sayang ibu profesional, Ibu Profesional, IIP, Melatih Kemandirian

Masalah memantapkan hati mengenai pemilihan jenis latihan kemandirian untuk Fatha yang kemarin dan beberapa saat lalu sempat membuat saya galau, alhamdulillah mulai menunjukkan titik terangnya. Semua berawal dari keisengan saya memantau perkembangan Fatha melalui Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).

Kuesioner ini memiliki dua bagian besar, yaitu bagian utama (penilaian perkembangan) dan cara melakukan stimulasi perkembangan pada anak. Oh iya, sebelum menggunakannya, kita harus memilih terlebih dahulu kategori usia yang sesuai bagi si kecil. Misalnya Fatha yang berusia 16 bulan cocok menggunakan penilaian perkembangan untuk usia 15 bulan. Sedangkan stimulasi perkembangannya menggunakan cara stimulasi untuk kategori usia 15-18 bulan.

Berdasarkan KPSP di atas, beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk menstimulasi kemampuan sosialisasi dan kemandiriannya adalah dengan membiarkan anak membuka bajunya sendiri dan memberi bantuan sesedikit mungkin. Selain itu anak bisa dilatih membereskan mainan dan membantu kegiatan di rumah. Awalnya dengan memberikan bantuan, sedikit demi sedikit biarkan ia melakukan sendiri.

Saya semakin yakin bahwa kesepakatan kami kemarin mengenai latihan kemandirian sudah cukup tepat. Kemampuan melepas baju sendiri memang sudah seharusnya dimiliki oleh anak seusia Fatha. Oleh sebab itu kami makin bersemangat melakukan latihan ini.

Hari kesembilan, Fatha sudah bisa lebih konsisten melepas pakaiannya meskipun kadang diikuti dengan lari-lari dan menjelajah kamar. Selain itu Fatha juga sudah mulai rajin meletakkan mainannya yang selesai digunakan ke dalam kotak mainannya walau harus dengan instruksi dari ibu.

PicsArt_10-15-01.14.42

#Harike9
#Tantangan10hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional