Komunikasi Produktif Day #15: Kendalikan Emosi (3)

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Hari H pernikahan Tante Deya, sepupu Ibu Fatha. Selepas subuh kami sudah harus bersiap-siap untuk acara akad nikah yang akan dimulai pukul 7 pagi. Sebelumnya, pukul 3 kami sudah menuju daerah Halim dari Tangerang untuk menuju lokasi.

Ibu Fatha lupa bahwa ibu harus makan cukup agar tidak mudah lapar.

Jadi pagi itu selepas akad, saat acara jamuan makan, Fatha masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia tak mau lepas dari gendongan saya. Kami pun mengambil makan untuk berdua. Dengan kondisi perut kosong, belum terbiasa dengan heels 7 cm yang saya kenakan, dan Fatha menolak untuk diturunkan, PR besar bagi saya untuk tetap mengendalikan emosi dengan baik.

Akhirnya karena Fatha belum juga mau makan, saya menyerah. Saya serahkan Fatha pada Uti, dan saya minta bantuan Pak Suami untuk mengambilkan makanan lagi.

Begitu perut kenyang, pikiran terang benderang. Emosi mirip gelombang laut yang pasang surut ini masih menjadi PR besar bagi saya.

Jangankan anak-anak, orang dewasa saja masih harus belajar mengendalikan emosi.

Dan hari ke-15 ini, saya masih harus berusaha mengendalikan emosi sebelum bisa mempraktekkan komunikasi produktif lagi.

#hari15
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Advertisements

Komunikasi Produktif Day #14: Fatha’s First Flight

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Akhir pekan ini, sepupu Ibu Fatha menikah. Keluarga besar kami pun melakukan perjalanan ke Jakarta H-1 akad nikah. Kali ini, pengalaman pertama Fatha menaiki pesawat terbang.

Bakda Subuh, Uti, Om-Om, Kakek, Ayah, Ibu, dan Fatha sudah bersiap-siap menuju bandara. Sejak beberapa minggu sebelumnya, Fatha sudah disounding akan terbang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang. Berbagai cerita menyenangkan sudah disampaikan.

Sesampainya di bandara, kami janjian dengan Mas Raafi (sepupu Ibu Fatha yang tinggal di kota lain) bersama Ayah Ibunya untuk bersama-sama melakukan check in.

 

PicsArt_09-29-10.16.48.png

 

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Hingga saatnya pesawat tinggal landas.

Fatha mulai menunjukkan rasa takut ketika kami sudah berada di dalam pesawat. Terlebih ketika kami sudah diharuskan mengenakan sabuk pengaman dan suara pesawat mulai menderu.

Dengan sedikit menaikkan volume suara, Fatha berujar, “atut, atut,” sambil menepuk-nepuk dadanya.

Saya dan Ayah Fatha berusaha berempati dan tidak mengabaikan rasa takutnya.

“Dek Fatha takut ya? Suara pesawatnya keras ya? Mari kita berdoa bersama,” respon Ayah sambil menuntun doa bepergian.

“Dek Fatha masih merasa takut? Yuk peluk ibu supaya lebih tenang,” lanjut saya.

Meski sepanjang perjalanan Fatha masih terlihat kurang nyaman, namun kami tahu ia sudah berusaha keras mengatasi rasa takutnya. Berkali-kali ia penasaran menengok jendela, namun kembali memeluk saya dan menutup mata.

Setiba di Jakarta dan beranjak turun dari pesawat, kami berterima kasih dan memberikan pujian pada Fatha.

“Terima kasih, Nak. Fatha hebat sudah berhasil mengatasi rasa takut. Ibu dan Ayah bangga,” puji kami.

Fatha meresponnya dengan menceritakan perasaan takutnya kembali. Bukan hanya pada kami namun juga ke semua kerabat πŸ™‚

Saya dan Pak Suami bersyukur, Fatha sudah dapat mengekspresikan perasaannya.

Saya juga bersyukur, praktek menerapkan instruksi singkat, menunjukkan empati, serta spesifik dalam memberikan pujian berhasil dilakukan.

#hari14
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #13: Kendalikan Emosi (2)

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Tiga di antara beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir jernih adalah lapar, lelah, dan emosi (marah).

Hari Kamis lalu, saya pulang dari kantor dalam keadaan dua di antara yang saya sebutkan di atas. Lapar dan lelah. Lapar, karena terakhir kali makan adalah saat sarapan, dan lelah karena beberapa pekerjaan belum berjalan sebagaimana mestinya.

Sesampai di rumah saat lepas Maghrib, saya baru ingat bahwa charger HP masih tertinggal di kantor. Padahal keesokan harinya saya harus berangkat ke luar kota dengan penerbangan pagi.
Pun saya melupakan beberapa pesanan belanjaan Uti Fatha untuk sarapan esok pagi.

Sadar bahwa saya dapat memperkeruh kondisi dengan komunikasi yang kurang produktif, akhirnya saya menghindar sementara dari Fatha. Saya isi perut yang kosong terlebih dahulu dan alhamdulillah pikiran mulai jernih.

Saya pun kembali ke kantor untuk mengambil charger HP yang tertinggal sekaligus mampir ke supermarket untuk membeli beberapa macam sayuran dan lauk untuk sarapan Fatha besok pagi.

Alhamdulillah sesampainya di rumah, mood saya membaik dan sudah dapat bermain-main dengan Fatha lagi.

Meskipun praktek komunikasi produktif belum saya lakukan dengan baik hari itu, tapi saya bersyukur sudah mampu mengendalikan mood dan emosi yang kurang oke dengan menemukan akar masalahnya.

#hari13
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #12: Keep Information Short and Simple

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Hari ke hari, saya semakin menikmati praktek komunikasi produktif, terutama bersama Fatha. Saat kemarin pulang dari kantor, Fatha sudah dalam kondisi bersih dan kenyang (terima kasih Uti, sudah bersedia dititipi Fatha selama ibu bekerja πŸ™‚ ).

Saat saya meletakkan tas di kamar, Fatha mengikuti dan lebih dulu naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut ungu kesayangannya sambil memposisikan diri untuk menyusu sambil menatap saya.

“Nenen, ayo,” ujarnya. Saya bertatapan mata dengan Uti dan kami berdua tertawa.

“Tunggu ibu mandi dan ganti baju ya Nak,” jawab saya.

Alhamdulillah Fatha sudah menghabiskan makan malamnya sehingga ia bersedia menunggu dengan tenang. Saya menyegerakan mandi, kemudian serah terima Fatha dengan Uti dilaksanakan.

Malam itu saya memiliki kewajiban membongkar jahitan kemeja Fatha agar bisa nyaman dipakai saat kondangan akhir pekan ini. Saya meminta bantuannya agar kooperatif. Saya mentargetkan dapat memberikan instruksi sesederhana dan sesingkat mungkin sehingga Fatha dapat memahami dan mematuhi.

“Nak, temani ibu menjahit ya. Fatha boleh main-main di dekat ibu,” ia pun mendekat.

“Duduk, duduk,” ujarnya meminta ijin duduk di samping saya.

Saya menyelesaikan jahitan baju dan sesekali meminta bantuannya. Instruksi tetap saya sampaikan dalam satu kalimat tunggal.

“Nak, tolong ambilkan benang yang warna hitam,” saya menatap mata Fatha. Fatha beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan benang dari meja di dekatnya.

“Ini?” tanyanya mengkonfirmasi. Saya mengangguk mengiyakan dan segera berterima kasih saat benang sudah ia serahkan.

Malam itu saya merasa Fatha sangat kooperatif dengan instruksi-instruksi singkat yang saya berikan. Terima kasih banyak Nak. Ibu bahagia sekali hari ini πŸ™‚

Praktek K.I.S.S. kemarin, done. Alhamdulillah.

#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

 

 

Komunikasi Produktif Day #11: Pujian dari Ananda

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Alhamdulillah praktek komunikasi produktif sudah melewati 10 hari pertama. Hari kesebelas, tugas pelatihan audit internal di kantor menyebabkan saya pulang ke rumah tidak tepat waktu.

Saya tiba di rumah setelah sholat Maghrib. Begitu Fatha mendengar bunyi motor saya, ia berlari menuju luar rumah.

Kali ini saya berusaha menurunkan standar kebersihan. Biarlah saya menunda cuci tangan dan mandi, dan menyempatkan memeluk Fatha dulu. Saya meminta maaf karena pulang terlambat. Saya juga berusaha berempati dengan berkata, “Maafkan Ibu ya Nak. Ibu tahu Fatha sudah kangen Ibu. Sama, Ibu juga kangen Fatha.”
Dijawab oleh Fatha dalam bahasa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu ^^

Saya hanya bisa membaca dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya bahwa ia bahagia.

Setelah sukses berkelit untuk mandi, saya kemudian menyempatkan bermain-main dengan alat make-up. Karena akhir pekan nanti insyaAllah sepupu Ibu Fatha menikah, jadi hari-hari ini Ibu Fatha sedang ngebut belajar berdandan.

Saya sempat mengacuhkan Fatha beberapa saat ketika sedang asyik dengan berbagai macam kuas. Sampai akhirnya Fatha berteriak mencari perhatian saya.

Kembali saya meminta maaf dan menanyakan pendapatnya sambil menatap mata Fatha. Entah kebetulan atau memang Fatha sudah bisa, saya mendengar ia berujar, “atiiik, mbu.. atiiik.”
Diulangnya kata-kata itu beberapa kali.

Mungkin saya kegeeran, tapi saya melihat Fatha mengucapkan dengan tulus.

Tidak mengapa, beberapa kesalahan dalam praktek komunikasi produktif saya lakukan hari itu. Namun mendapat pujian dari anak, rasanya seperti terbang di awang-awang.

Terima kasih, Nak..

#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #10

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Senin pagi, saatnya Pak Suami kembali ke kota lain untuk bekerja. Fatha sudah menampakkan “Wajah Hari Senin”: ekspresi datar karena belum rela ditinggal ayah ibunya bekerja.

Seperti biasa, ibu berangkat lebih dahulu ke kantor sehingga hanya mendengar cerita bagaimana ia menyambut Hari Senin-nya dari ayah dan utinya.

Alhamdulillah saat istirahat siang, saya bisa menyempatkan pulang untuk bermain dengan Fatha sejenak dan menyusui. Ia berteriak kegirangan dan berlari menuju pelukan ibunya dengan senyuman.

Saya menunjukkan empati dengan berucap, “Fatha senang ya ibu sudah pulang? Ibu juga senang bisa ketemu lagi dengan anak shalih.”

Dijawabnya dengan naik ke gendongan saya dan berujar singkat, “nenen..”

Spontan saya tertawa geli.

Setelah menunaikan haknya, saya memberikannya informasi bahwa kami bisa bermain sebentar. Selanjutnya saya harus kembali ke kantor.

Fatha mengantarkan saya kembali bekerja dengan lambaian tangan tanpa beban, “dadaaaa”

Alhamdulillah..

Sorenya sepulang kembali ke rumah, saat tiba waktu Maghrib, saya kembali mendapat kejutan manis. Fatha menarik-narik sarung ayahnya dan membawanya ke arah saya yang baru saja selesai sholat. Ia mengalungkan sarung di lehernya seraya menirukan gerakan sujud.

Saya bertanya, “Adek mau sholat? Yuk ibu bantu memakai sarungnya.”

Setelah sarung terpasang, Fatha menirukan gerakan sujud kembali sambil membaca kalimat takbir versinya, “Allahuaba.”

IMG-20180924-WA0065.jpg

“Masya Allah, shalihnya anak ibu. Sudah pintar sholat,” pujian saya dijawab dengan tawa Fatha.

Praktek empati, keep the information short and simple (k.i.s.s), serta pujian spesifik hari kesepuluh berujung manis πŸ™‚

Alhamdulillah

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #9: Memilih Waktu dan Menjaga Intonasi Suara

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Akhir pekan merupakan quality time dalam hal komunikasi, terutama bersama Pak Suami. Pagi hari, selepas Fatha mandi, kami sudah menuju pasar kaget di Jalan Lingkar dan berekreasi di sana.

Fatha tampak bahagia melihat arena bermain dan kereta-keretaan.
Kami sepakat belum memperbolehkan Fatha bermain lompat-lompatan di arena bermain karena tidak ada pendamping. Hanya anak-anak yang diperbolehkan masuk arena.

Setelah kami bertiga sarapan soto dan mencicipi es krim roll yang sudah saya idam-idamkan beberapa saat lamanya, Fatha tiba-tiba berteriak kegirangan melihat seekor kuda sedang menarik dokar. Dokar serupa dengan delman, hanya saja keretanya memiliki 2 roda, tidak sebanyak delman yang memiliki 4 buah roda.

Kami menghentikan Pak Kusir dan minta untuk diantar berkeliling Jalan Lingkar, di sepanjang area Pasar Kaget.

Awalnya Fatha terlihat menikmati kendaraanya. Suara ketuplak-ketuplak langkah kuda mungkin mengingatkannya pada mainan keledai karetnya di rumah. Lama-kelamaan tak terdengar suaranya, rupanya Fatha sudah terlelap.

20180923_092610.jpg

Sepulang dari Jalan Lingkar, dalam kondisi Fatha masih tidur, saya pikir merupakan waktu yang tepat bagi saya dan Pak Suami berdiskusi. Saya coba membuka percakapan, dan zonk. Beberapa kali Pak Suami tidak nyambung.

Ternyata Pak Suami mengaku sedang mengantuk.

Akhirnya pembicaraan saya tunda hingga kedua lelaki ini bangun tidur.

Di kesempatan lain sore harinya, saya keliru menggunakan intonasi suara saat sedang berbicara dengan Pak Suami. Alhamdulillah beliau mengingatkan saya dengan berkata, “tolong nada suaranya jangan terlalu tinggi.”
Beliau masih ingat kata-kata saya sepuluh hari lalu untuk mempraktekkan komunikasi produktif di dalam keluarga. Suara Fatha yang bersenandung di kejauhan dan kata-kata Pak Suami berusan menyadarkan saya sehingga emosi negatif tidak jadi terpantik.

Sore itu komunikasi dengan suami kembali berjalan lancar dengan mempraktekkan kaidah “choose the right time” dan “7% verbal-38% intonasi suara-55% bahasa tubuh”.

Terima kasih, Pak Suami, sudah rela bersabar mendidik dan menghadapi istrinya ☺

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #8: Menyambut Tamu

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif, Uncategorized

Hari Sabtu, teman kantor Ibu yang sedang lanjut studi, Ibu Ayu, bersama putranya, Mas Oci, berencana berkunjung ke rumah Fatha. Jadi pagi itu Ibu sounding pada Fatha agar menyambut tamu dengan baik.

“Nanti main-main dengan Mas Oci ya Nak”, begitu berkali-kali ibu berpesan. Tentunya masih dengan instruksi singkat sesuai kaidah K.I.S.S. dan dengan menatap mata Fatha dengan ramah.

Sore hari, saat Fatha ditemani Ayah bermain di rumah YangYutLik (adik eyangnya Ibu Fatha, yang tinggal persis di samping rumah), datanglah Ibu Ayu bersama Mas Oci.

Mas Oci menghampiri Fatha dan menyapanya. Mereka berdua langsung akrab. Cukup mengejutkan, karena biasanya Fatha butuh waktu untuk beradaptasi dengan orang baru. Apalagi jarak usia keduanya cukup jauh. Mas Oci sudah duduk di kelas 5 SD.

Mereka berdua berjalan menuju rumah Fatha dengan bergandengan tangan, ditemani Ayah. Ibu senang, Fatha langsung merespon baik pesan ibu sejak pagi, untuk menyambut tamu dengan ramah.

Ibu bisa berbincang-bincang seru bersama Ibu Ayu sementara Fatha asyik bermain bola bersama Mas Oci.

Terima kasih atas kerja samanya ya Nak πŸ™‚

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

 

 

Komunikasi Produktif Day #7: Bedtime Story

bunda sayang ibu profesional, Curhat, komunikasi produktif

Sepekan sudah komunikasi produktif saya coba praktekkan. Memang hasilnya masih beragam, kadang sukses, tak jarang masih belum terlihat manfaatnya. Namun sejak mengubah mindset dengan makin mengarah pada positive thinking, alhamdulillah saya merasa ikatan dengan anak maupun pasangan terasa makin kuat. Hemat energi makin bisa dirasakan semenjak saya makin jarang marah-marah dan berteriak πŸ™‚

Seperti semalam, Fatha masih penuh energi bermain-main dan berlarian di dalam rumah. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 19.30, saatnya Fatha harus tidur. Saya memberikannya pilihan, “Mau tidur sekarang atau mau dibacakan buku dulu, Nak?”

Fatha berlari masuk kamar dan mengambil salah satu buku ceritanya.

Saya kembali mengajaknya ke kamar mandi untuk ritual bebersih dan langsung menuju kamar tidur.

Buku yang dipilih Fatha adalah mengenai menanamkan keberanian untuk tidur sendiri. Mengingat di usia 1 tahun ini rentang konsentrasi Fatha masih sekitar 1 menit, jadi saya tidak memasang target untuk membaca buku sesuai tulisan. Kami menyimak gambar pada buku bersama-sama sambil sesekali Fatha menunjuk salah satu gambar, menyebut namanya, dan bertanya.

2018-09-22 05.21.27.jpg

Dia sudah mampu menyebut beberapa objek gambar pada buku, seperti bola, gajah, (ku)cing, (pes)awat, bobok, dan (seli)mut. Jadi dongeng saya berkisar pada objek-objek tersebut.

Alhamdulillah malam tadi Fatha bisa tidur sesuai jadwal dan tanpa drama. Praktek komunikasi produktif “mengubah perintah menjadi pilihan” berhasil πŸ˜„

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif Day #6: Belajar Berempati

bunda sayang ibu profesional, Family, komunikasi produktif

Praktek komunikasi produktif hingga hari keenam masih menjadi ajang bagi saya melatih konsistensi. Selain berupaya mengendalikan emosi, saya masih belajar menepati kaidah komunikasi produktif terhadap anak.

Saat makan malam, Fatha berulang kali menolak membuka mulut, apalagi menyuapkan makanannya sendiri. Saya berusaha merayunya untuk mau mencicipi sayurnya. Berulang kali Fatha menolak dan meminta “nenen”.

Saya tegaskan, “Makan dulu ya Nak. Boleh nenen setelah makan”.
Fatha tidak mau menerima kata-kata saya. Ia mulai merajuk dan mengeluarkan tangisannya.

Saya melakukan kroscek kepada Uti Fatha. Ternyata sore setelah mandi, Fatha sudah menghabiskan beberapa porsi makanan: kue mangkok, satu ekor ikan mujair, satu buah pisang.

OK, baiklah πŸ˜€

“Fatha sudah kenyang ya Nak? Maafkan ibu sudah memaksa makan ya. Yuk, sekarang cuci tangan kaki, lalu nenen”, ujar saya kemudian, mencoba berempati.

Dan benar saja, tak lama setelah menyusu, Fatha pun terlelap.

20180920_201001.jpg

 

Saya sedikit merasa bersalah karena sempat memaksanya makan, namun kemudian perasaan itu saya tepiskan. Bagaimanapun, hari ini saya sudah berusaha untuk lebih mengendalikan emosi agar tidak langsung marah-marah dan memaksakan makanan masuk ke mulutnya.

 

#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional